Hikmah di Balik Corona Bag.2

Anak-anak sudah tidak sabaran lagi untuk membantuku membuat kue, sebelumnya kami sudah membuat donat kentang dan bakwan sebagai cemilan pengganti jajan, karena semenjak maraknya tagar dirumah aja, Aku mulai mengatur strategi gimana caranya membuat cemilan yang enak dan bervariasi sehingga anak-anakku tidak merengek minta keluar, walaupun hanya sekedar beli snack dan permen seperti biasanya.

Mumpung awal bulan, aku sudah buatkan list belanja kebutuhan bahan pokok dan kebutuhan lainnya untuk 2 minggu kedepan, karena libur diperpanjang. Tidak lupa pula, Aku masukkan juga bahan-bahan untuk membuat cemilan untuk para bidadari dan pangeran kecilku dari resep masakan yang telah Ku simpan sebelumnya.

Tidak terasa, semua bahan yang telah dibeli melebihi anggaran kebutuhan di bulan sebelumnya, barang-barang semua pada naik, terkadang sempat membingungkan hati, kalau tidak dilebihkan, nanti takutnya situasi tambah parah, apalagi di wilayah tempat tinggalku baru saja diumumkann kalau ada yang positif covid-19, bisa-bisa tidak ada lagi kesempatan buatku untuk membeli tambahan bahan-bahan yang kurang.

Tanpa pikir panjang, Aku telah membeli semua bahan yang ada di list dan tidak satupun yang terlewatkan. Setelah membongkar semua barang belanjaanku, tiba-tiba kedua putriku berlari ke arahku dan dengan sigapnya membantuku menyusun semua barang belanjaanku ke dalam kulkas dan khusus bahan-bahan untuk membuat kue, kami simpan dalam lemari.

Sesuai dengan daftar menu yang telah kurencanakan sebelumnya, hari ini aku akan masak bolu susu kukus.

“Naiya, bantu Bunda ambilkan mixer dalam lemari ya sayang.” ujarku sambil menyisihkan bahan-bahan yang akan digunakan

“Baik, Bunda.” ujar Naiya dengan antusias.

Semua berjalan sesuai rencana, setelah semua adonan selesai Aku mixer dengan kecepatan tinggi, lalu kutuangkan kedalam cetakan dan siap untuk dikukus.

“Pa, bisa bantu Bunda?”.

“Apa yang bisa Papa bantu, Bun?” ujar suamiku.

“Bunda, mau memasak untuk makan siang, kalau sudah 10 menit, minta tolong Papa tusuk kuenya sama lidi ya, kalau tidak ada yg lengket di lidinya, berarti kuenya sudah masak.” ujarku seraya mempersiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.

Tidak menghabiskan waktu yang g lama, semua kuselesaikan menjelang azan sholat zuhur berkumandang. Setelah kami sholat Zuhur berjamaah, kami makan siang bersama, kemudian anak-anakku tidak sabaran lagi untuk mencicipi bolu susu kukus yang telah selesai dimasak.

” hmmm, lezat. Kuenya enak Bun!” kata naira penuh semangat.

“Tentu dong, siapa dulu kokinya.” ujar papa sambil mengerlinkan matanya kepadaku.

“Bunda..” ujar anak-anakku serentak.

Anak-anakku tampak menikmati kebahagiaan dan kebersamaan kami selama dirumah saja. Semua kami lakukan bersama, selama ini kami jarang makan bersama karena kesibukan masing-masing, tetapi semenjak maraknya wabah corona, kami bisa menikmati kualitas waktu yang sangat berharga ini setiap hari, bahkan kami bisa melaksanakan sholat berjamaah dirumah saja dan menghabiskan waktu untuk bercengkrama di sore harinya.

Begitu banyak hikmah yang kami rasakan semenjak corona melanda. tapi satu yang pasti, kita semua patut mensyukurinya apapun kondisi kita.