Pesan dari Bapak Tua Pengantar Paket

Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami, saat magrib menjelang, pintu dan jendela rumah harus sudah tertutup. Sejak kecil ibu selalu berpesan padaku, saat magrib menjelang, matahari terbenam di peraduannya. Menorehkan warna merah saga di ufuk barat. Saat itulah makhluk gaib memulai harinya. Menggoda manusia yang masih berkeliaran di luar rumah.

Karena itulah, setiap sore sebelum magrib datang, ibu dan bapak selalu menyuruhku segera masuk ke dalam rumah. Menutup pintu dan jendela agar kami selamat dari bala saat magrib tiba.

Demikian juga dengan sore itu. Pintu dan jendela sudah tertutup rapat. Suara azan mulai sayup terdengar. Tiba-tiba saja pintu depan diketuk dengan kencang. Disusul sebuah suara yang tak kalah kerasnya, “Assalamualaikum!”

Astaga, siapa pula orang yang hendak bertamu saat magrib begini? Tak tahukah ia adab bertamu? Saat pintu dan jendela sudah terkunci, tanda tuan rumah sedang tak ingin didatangi.

Mbak Atien, asisten rumah tangga kami, bergegas membuka pintu. Dari ruang tengah aku bisa melihat wajah tamu tak diundang itu. Seorang bapak paruh baya memakai jas hujan melindungi tubuh hingga kepala.
Diserahkannya sebuah kotak kecil berwarna coklat muda. Lengkap dengan tulisan identitas pengirim dan penerima.

Oh, aku baru ingat. Beberapa hari lalu aku pesan suplemen pada seorang kawanku. Suplemen minyak ikan untuk menjaga stamina kami sekeluarga. Paket ini dikirim dari Jakarta. Langsung dari kantor pusat perusahaan suplemen tadi.

Jakarta?

Oh, tidak! Harusnya Mbak Atien tidak boleh menerima paket itu. Ia harus diletakkan di luar rumah agar kuman dan virus yang kemungkinan menempel di plastik pembungkusnya tidak ikut masuk ke dalam rumah kami.

Baru saja Mbak Atien mau aku suruh segera cuci tangan, Pak Tua tadi menahannya untuk menandatangani bukti penerimaan barang.

Ouch! Sekali lagi, Mbak Atien bersentuhan dengan tangan Pak Tua itu. Hm, tak sabar aku ingin meminta Pak Tua itu segera meninggalkan rumah kami. Mengingat Pak Tua ini pasti sudah banyak bersentuhan dengan barang-barang kiriman dari luar kota. Tubuh Pak Tua ini sangat mungkin bersentuhan dengan paket dari kota-kota endemi korona.

Rasa panik mendadak memenuhi otakku. Tuhan, bagaimana ini? Rumah kami telah dimasuki orang yang berpotensi membawa virus.

Kulihat Mbak Atien telah selesai bertanda tangan. Pak Tua itu mengucapkan terima kasih seraya tersenyum. Ia mengangguk sebelum pergi.

Tiba-tiba saja, batinku dirayapi perasaan bersalah. Astaga, bukankah bapak itu telah berjasa mengantarkan paket suplemen yang sangat bermanfaat untuk keluargaku. Mengapa aku malah mencurigai dan memperlakukannya secara tidak sopan?

Bukankah bapak ini bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jika tidak demikian, pastilah lebih enak duduk manis di rumah daripada bekerja di jalanan dalam kondisi yang mengkhawatirkan seperti sekarang.

Mengapa tak terpikir olehku untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada bapak tua dan keluarganya? Bila tip dianggap tidak etis dalam pekerjaannya, aku bisa memberi makanan atau apalah untuk bapak tua itu.

Wajah bapak tua berkelebat di mataku. Senyum yang tulus pada wajah paruh baya yang tampak penat bekerja seharian. Sementara keluarga menunggu di rumah untuk sesuap harapan.

Tuhan, aku malu. Maafkan aku dengan segala kebodohanku.

rumahmedia/ nuralfiy

Sumber: www.emakjourney.wordpress.com

2 comments

  1. Saya juga sering parnoan gitu, Mbak. Lama kelamaan, saya memilih untuk pakai masker tiap ketemu orang (dengan asumsi saya bisa jadi seorang carrier sehat yang bisa menulari orang tanpa sadar) namun tetap berinteraksi biasa. Begitu sudah beres, langsung ganti baju dan cuci tangan. Yang penting tetap jaga-jaga, namun tidak membuat orang tersinggung.

    1. Hiks. Iyaaa… skrg ke mana2 pake masker. Dan jadi lebih menjaga kebersihan diri.

      Terima kasih tipsnya mb.. smg wabah ini segera berlalu dan kita diberikan kesehatan & keselamatan. Amiiin