Hidup Ini Perjuangan, Mak!

Hidup Ini Perjuangan, Mak!

Kisah 1

Kupejamkan mata sejenak, melerai lelah yang mendera, gundah dan gelisah yang menjelma. Memanfaatkan waktu yang sangat berharga saat si kecil yang baru berusia 1,5 tahun kurang 1 bulan tidur dengan nyaman di kasurnya.

Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara rintik hujan menimpa atap rumah petak yang belum genap satu bulan kami tempati. Rumah yang tak bisa dikatakan ideal tapi cukup layak untuk ditempati oleh keluarga kecil dengan batita yang tak kenal lelah untuk terus bergerak. Aku menikmati tetes demi tetes air yang jatuh perlahan, namun, seketika kesadaranku tertampar saat teringat jemuran di depan rumah belum diangkat.

Dengan panik kusambar jilbab dan segera berlari keluar untuk menyelamatkan baju yang sudah susah payah aku cuci, aku tak bisa mencuci baju dengan tenang jika si kecil tidak ikut dibawa ke kamar mandi. Tadi pagi karena dia sangat aktif ada sedikit insiden kecil, saat aku asyik mencuci baju, dia pun asyik bermain di bak mandi, namun karena terlalu banyak bergerak baknya ikut jungkir balik, untung saja saat insiden itu cucianku sudah tuntas tinggal menjemur saja.

Karena gerakanku yang terburu-buru saat mengangkat jemuran, bayi montok yang super aktif itu jadi terbangun dan menangis sangat kencang. Mungkin ia kaget dan merasa kenyamanan tidurnya terganggu. Aku menelan ludah dengan kasar, bayangan akan menikmati kasur sejenak hilang sudah karena si ganteng sudah mulai beraksi.

Bersyukur dia kembali bermain di tengah tumpukan mainannya. Kumanfaatkan moment itu dengan menyalakan setrika dan mulai menyetrika satu per satu baju yang tadi kuangkat. Tidak mungkin untuk main di luar karena hujan ternyata semakin deras. Sesekali kulirik bayi ganteng di pojok ruangan, dia asyik bermain dengan beberapa buku gambar yang sengaja aku belikan di pasar tadi pagi.

Melihat hal itu, aku kembali fokus melanjutkan setrikaan yang sudah mulai menggunung. Luar biasa, akhirnya setrikaanku tuntas, lega rasanya, seolah baru terlepas dari utang yang menjerat leher. Bagiku, menyetrika adalah sebuah pekerjaan yang paling berat, entah kenapa, ini sangat berbanding terbalik dengan tetanggaku, ia lebih suka menyetrika dibandingkan mencuci baju.

Setelah aku rapikan kembali setrika dan perangkatnya, kuhampiri si bayi yang anteng dari tadi, agak sedikit penasaran sebenarnya apakah ia sangat tertarik dengan buku gambar itu sehingga bisa bermain sendiri tanpa mengganggu kesibukanku ataukah dia sedang bermain yang lain. Saat kuhampiri dia, jantungku serasa lepas dari tempatnya, shock luar biasa saat melihat hampir semua buku yang ada di rak buku sudah turun semua, beberapa buku sudah terkelupas sampulnya, bahkan ada sekitar 3 buku yang sudah tak berbentuk rupa. Ternyata diamnya anak itu harus diwaspadai fikirku disertai senyum getir yang kurangkai paksa.

Hari demi hari seolah terus berlari, meninggalkan jejak kenangan yang terus berganti. Walaupun pekerjaan rumah seolah tak memberi ampun, namun rasa bahagia mendampingi pertumbuhan dan perkembangan anak yang pesat dan terhitung cepat. Ia sekarang sudah mulai bisa berlari dan berjalan, walaupun sesekali terjatuh namun tak membuatnya patah semangat. Justru kadang yang membuat lelah tak terperi karena harus berkejaran antara mengerjakan pekerjaan rumah dan mengajar anak yang super lincah. Mau mandi, mau ganti pakaian, mau makan, harus main kejar-kejaran dulu.

Ingin rasanya punya waktu yang lebih banyak, tapi kalaupun sehari itu ada 48 jam, rasanya pekerjaan di rumah tak ada habisnya. Sungguh aku salut sama ibu-ibu yang diberi anugerah anak lebih dari satu dengan jarak yang berdekatan, namun masih bisa memenej waktu dengan baik dan tetap terlihat bahagia. Aku sepertinya masih harus banyak belajar dari mereka.

Aku masih menikmati cuti, sekolah tempatku mengajar memang keren, ia memberikan aku cuti 1 tahun agar bisa maksimal dalam mendampingi anak di masa golden age nya. Dan ini benar-benar aku manfaatkan sebaik mungkin. Bersyukur suamiku pengertian, ia sering memaklumi jika kondisi rumah masih terlihat seperti kapal pecah saat ia pulang ke rumah. Bukan, aku bukannya mengabaikan kebersihan, aku tahu kalau kebersihan itu sebagian dari iman, maka menjaga kebersihan itu adalah prioritasku. Namun, jika kalian percaya, belum juga jeda 5 menit setelah aku rapikan, rumah akan kembali seperti gelas kaca yang dijatuhkan, berantakan dan tak sedap dipandang. Semua itu karena atraksi anak hebat yang sedang senang-senangnya mengeksplor sesuatu.

Suatu hari, hujan kembali menemui kami, jemuran pun menanti uluran tangan, namun aku tak mungkin meninggalkan bocah kecil itu sendiri. Setelah memeras akal, akhirnya aku menemukan cara, kugendong ia agar tak lari kemana-mana. Rupanya nasib baik sedang kurang berdahabat sehingga terjadi insiden yang membuatku lemas tak berdaya. Saking buru-burunya mengangkat jemuran, sementara si kecil tak berhenti bergerak, tanpa sengaja ujung hanger nyangkut di kelopak matanya.

Dengan badan gemetar aku berhasil melepaskan hanger tersebut, namun tak lama kemudian mata sebelah kiri membengkak. Alarm tanda bahaya berbunyi nyaring, dengan sisa tenaga yang ada karena tiba-tiba aku tak memiliki kekuatan, kugapai HP, mengabarkan kejadian tersebut kepada suamiku, serta meminta dia untuk segera pulang agar bisa segera ke dokter.

***

Kisah 2

Masa cuti habis, terpaksa harus mencari seseorang yang bisa menjaga bocah 2 tahun yang sedang lincah-lincahnya. Dilematis memang, di satu sisi masih ingin mengaktualisasi diri dan di sisi lain merasa berdosa meninggalkan buah hati tercinta.

Setelah mencari kesana kemari akhirnya ada salah satu tetangga yang menawarkan diri. Feeling saya kurang enak sebenarnya, tapi karena tidak ada lagi yang bisa, kucoba juga dengan hati yang sedikit meragu.

Hari pertama dimulai, drama pagi sudah mulai tayang dari sejak dia bangun tidur. Aku tetap memandikannya karena aku bertekad walau sesibuk apa pun aku harus punya waktu dengannya, dan salah satu quality time kami adalah saat dia mandi. Begitu sampai tempat tetangga, dia sudah menangis kejer, tak mau lepas dari gendongan, si tetangga sudah berbagai cara membujuk namun tak menampakkan hasilnya. Ingin rasanya aku balik lagi ke rumah, menggagalkan diri berangkat ke tempatku mengajar, tapi suami tetap memberi motivasi dan meyakinkan semuanya akan baik-baik saja, katanya si bayi lincah juga harus belajar bersosialisasi dan sesekali jauh dariku.

Mengingat waktu semakin siang, terpaksa kutinggalkan dia yang masih meraung di gendongan tetangga. Aku harus tega, tekad ku saat itu. Namun baru sepertiga perjalanan air mata mengalir dengan cantik. Seluruh perasaan bercampur aduk benar-benar berasa makan buah si malakama. Sepanjang perjalanan aku berfikir, haruskah aku pindah tempat ngajar ke sekolah negeri saja yang pulangnya bisa lebih cepat, namun jika dikalkulasi ulang lebih baik aku di rumah mengasuh dia daripada ngajar di sekolah negeri apalagi dengan status honorer.

Hari pertama kulalui dengan rasa yang cukup berat, di sekolah pun aku sedikit kurang konsentrasi karena masih terbayang tangisan si dia saat kutinggalkan tadi pagi.

Memang mencari pengasuh untuk seorang ibu bekerja adalah PR yang cukup sulit. Sudah mencari-cari selama beberapa hari, namun hanya satu kandidat yang bersedia dan aku tak bisa memilih lagi walaupun ada perasaan kurang pas, seperti ada sesuatu yang kurang, mungkin insting sebagai seorang ibu mulai jalan apa aku yang terlalu khawatir ya?

Yang membuat saya heran adalah sudah masuk bulan ketiga namun drama di pagi hari tak kunjung tamat, padahal secara logika jika hanya masalah adaptasi seharusnya paling lama satu bulan ia sudah terbiasa dan tak perlu membuat drama panjang lagi. Pernah ada tetangga lain yang memberitahu kalau bocah ganteng yang kami beri nama Ayyasy sering dibiarkan main sendiri, namun aku masih percaya dengan si mbak, di depanku ia adalah seorang sosok yang baik, ramah, lemah lembut, dan sangat perhatian kepada anak saya.

Rupanya seandai pandainya orang menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Begitu pun dengan si mbak, awalnya aku yang mengabaikan info miring tentangnya, lama kelamaan jadi mengakui kebenarannya. Hal ini pun tak sengaja aku lihat, saat aku ketinggalan barang di rumah, terpaksa aku harus pulang lagi. Sebelum masuk rumah, iseng aku intip anakku yang memang sedang terlihat main di luar di kursi rodanya. Kutunggu hingga 15 menitan karena rasa ingin tahu yang menderu, namun tak kunjung kulihat si mbak menghampiri anakku. Lanjut kutunggu 15 menit berikutnya, anakku mulai terkantuk-kantuk, matanya mulai sayu, ingin rasanya aku lari untuk menggendong dan meninabobokan dia, namun aku ingin menguak kebenarannya, jadi kutahan dengan segenap rasa.

Tepat 30 menit aku berdiri mengabaikan rasa pegal di kaki, aku sudah tak tahan, emosi sudah berada di ujung tanduk, tapi aku berusaha tetap tenang. Kuintip dari balik jendela di mana gerangan keberadaan si mbak, kuintai di berbagai sudut, ternyata oh ternyata si mbak sedang tidur di sofa sementara TV di depannya nyala. Dengan badan sedikit bergetar menahan ledakan emosi, kuketuk pintu dengan sedikit keras. Hingga ketukkan ke lima barulah pintu terbuka, dengan wajah baru bangun tidur ia keluar. Kulirik anakku yang sekarang sudah tertidur di kursi rodanya.

Ingin rasanya aku teriak, memaki, meluapkan emosi, namun yang keluar dari mulutku sangat pendek,
“Mbak, Ayyasy aku bawa pulang ya!”

Si mbak dengan wajah memucatnya tak bisa berkata-kata.

***

Begitulah perjuangan seorang ibu. Ibu bekerja maupun ibu rumah tangga biasa sama-sama berjuang walau di ranah yang berbeda. Jadi, jangan hargai setiap peluh perjuangan seorang wanita. Jangan pernah mencela karena ia bekerja di luar rumah. Tentu semuanya punya alasan nyata sehingga ia harus bekerja walaupun tanpa harus melepaskan kodratnya.

Yuk! Saling menghormati 😊