Hidangan Sahur Pertama

Sore saat suamiku pulang,wajahnya begitu kusut. Kemungkinan ia kembali dengan tangan kosong. Sejak diberlakukannya PSBB serta larangan membawa penumpang bagi Ojek Online, penghasilan suamiku sangat jauh berkurang. Malah dua hari terakhir sama sekali tidak ada.

Hal yang benar-benar memberatkan.

Belum lagi sekolah yang harus online. Si kembar yang kelas 5SD akhirnya menumpang di rumah Kepling (Kepala Lingkungan) kami, karena tidak ada android apalagi paket data. Bersyukurnya istri Kepling adalah wali kelas mereka, yang sangat paham dengan kondisi keluargaku.

Suamiku membuka tudung saji.

“Hanya ada ini ya bu?” ia melihat padaku dan kembali memperhatikan sepiring nasi dan dua potong tempe goreng.

“Iya, Bapak makanlah, pasti belum makan kan.” Ujarku dengan senyum.

“Ahh…, aku tidak begitu lapar. Anak-anak sebentar lagi pulang ya? Bagaimana makan malam mereka ya Bu, sisa uang hanya sepuluh ribu. Rencananya untuk beli bensin jika besok ada pesanan. Apa kita pakai saja dulu?” Suamiku menatap lama. Terlihat kegalauan dimatanya.

“Kalau Bapak setuju, kita pakai saja dulu. Apalagi besok kita sahur pertama, setidaknya anak-anak tetap bisa sahur dan bersemangat untuk puasa.”

“Ya Allah, aku sampai lupa lho Bu, berarti malam ini kita tarawih pertama ya. Maafkan aku ya Bu, maaf lahir batin.” Suamiku memelukku erat.

“Aku juga minta maaf ya Pak, banyak salah dan khilaf.”balasku

“Pakai saja uang ini Bu, Beras kita masih ada kan? Belanja saja untuk lauk, bergegaslah sebelum magrib datang.” Sepuluh ribu yang terlipat rapi diujung dompetnya berpindah ke tanganku.

Aku sedang dalam perjalanan pulang dari warung, dan memikirkan olahan apa yang akan kubuat dengan tiga butir telur,dua potong tahu dan dua buah terong. Panggilan dari suara yang kuhapal menghentikan langkahku. Si kembar berlari mengejarku.

“Ibu dari warung Mbak Suci ya?” serentak mereka bertanya, dan kujawab dengan anggukan.

“Bu guru ngasih ini.” Rahma mengangkat keresek yang dibawanya.

“Juga ini lho bu.” Sambung Rahmi tak mau kalah.

“Ohh, nanti dibuka di rumah saja ya.” Sahutku sembari menggandeng mereka berdua.

Keresek dari Bu Kepling telah dibuka. Ada 5 bungkus Mie instan, Beras, 2 Sarden kaleng, juga minyak goreng. Pun ada empal dan sayur lodeh. Rezeki tak terduga.

“Kata Pak Kepling buat menyambut puasa Bu, empalnya juga bisa buat hidangan sahur nanti.” Rahma yang sudah selesai mandi memberi komentar.

“Alhamdulillah ya. Ramadan selalu membawa berkah.” Suara suamiku menyahut.

Tersentak, aku merasa telah tidur begitu lama. Kulihat jam dinding, ternyata masih pukul dua. Masih terlalu cepat untuk sekedar memanaskan sayur. Apalagi imsak mendekati jam lima. Akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan tidur lagi.

“Buuuuk, Buuuuk,” suara yang kudengar dan goyangan di tubuhku membangunkanku.

“Duuh, maaf Pak, sudah waktunya sahur ya.” Aku memandang suamiku, lalu melihat jam dinding. Pukul lima lewat sepuluh. “Lho… sudah subuhkah?” sambungku kaget.

“Waah…anak-anak gimana puasanya? Ya Allah Pak, kok bisa ketiduran gini ya.” Aku memandang suamiku, menyesali diri kenapa setelah terbangun aku tidur kembali.

“Ayo, sholat subuh. Si kembar sudah bangun dan lagi ambil wudhu. Puasanya ya dilanjut saja. Mungkin rezeki makan sahurnya dipindah untuk buka puasa saja.” Suamiku menjawab dengan senyum di wajahnya.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita