HEBOH

Bermula ketika salah satu anggota grup pedagang pasar online di aplikasi hijau, menyampaikan kekecewaannya. Walau itu grup pedagang tapi kami saling melarisi satu sama lain. Segala macam kebutuhan bisa didapatkan di grup.

Jadi saat itu ada salah seorang membeli buah segar yang ditawarkan oleh pedagang yang lain. Tergiur oleh foto buah dan harganya yang murah.

“Bu, saya tertarik sama buahnya,” ujar bu Minah.
“Boleh Bu, minimal pembelian 3 Kg, gratis ongkos kirim,” jawab bu Wulan.
“Baiklah, saya beli 3 Kg,” bu Minah setuju dengan penawaran bu Wulan.
“Beli 5 Kg saja Bu, sekalian ngabisin stok,” rayu bu Wulan.

Entah bagaimana rayuan pulau kelapa yang dilancarkan oleh bu Wulan sehingga bu Minah setuju menambah pembeliannya, menjadi total 4 Kg.

Ternyata buah yang dikirim tidak sesuai dengan gambarnya. Buah yang datang sebagian besar sudah hitam membusuk dan dalam keadaan dingin, seperti sudah lama di lemari pendingin.
Tring.

Masuk pesan di grup pedagang. Sebuah foto buah segar dengan tulisan di bawahnya ‘iklannya bagus gini’.

Tring.

Masuk pesan susulan. Sebuah foto buah hitam-hitam membusuk dan tulisan di bawahnya ‘kenyataannya seperti ini’.

Selanjutnya dapat ditebak, komentar-komentar beruntun tiada henti. Semua menyalahkan si pedagang buah. Tak sedikit yang akhirnya mengakui sudah tertipu juga.

 
Saya termasuk yang menyimak, sambil mencari tahu siapa pedagang yang dimaksud. Tujuannya agar tidak ikut membeli di tempatnya. Tidak ingin juga tertipu mendapat barang busuk.

Anehnya, diantara pesan-pesan masuk yang saling mengomentari buah busuk, terdapat beberapa postingan promo dagangan. Seolah tidak terpengaruh dengan kehebohan di grup saat itu.

 
“Ini coba ya, yang jualan gak merasa apa ya?” tanya bu Minah.
“Belum baca barangkali Bu?” sahut bu Titi menenangkan.
“Belum baca bagaimana? Itu sudah posting dagangan lainnya,” sambar bu Ema cepat.
“Jangan-jangan dia cuma posting dagangan tapi gak baca lagi?” tanya bu Titi curiga.

Bersyukur keresahan para pedagang disambut baik oleh admin. Admin grup segera mengeluarkan dari grup orang yang dimaksud. Tak lupa disertai pesan-pesan, agar dalam berdagang itu, jangan hanya mencari untung tapi juga mencari berkah. Semua yang kita lakukan, tentu akan diminta pertanggungjawabannya di hari akhir nanti.

Akhirnyaa kehebohan pun mereda dan kami kembali saling menawarkan dagangan lagi. Memulai hari dengan rutinitas untuk mengais rezeki. Tentunya dengan cara yang baik dan diridhoi.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie