Harta Karun Ayah (Bagian 1)

Harta Karun Ayah (Bagian 1)

Kuamati rumah tua itu. Atapnya yang berwarna coklat dan daun jendela kayu yang hampir lepas menyiratkan usianya sudah sepuh. Rumah yang menjadi tempat bernaung beliau. Bersama orang yang ia cintai. Mengawali babak baru. Akh, beginikah keadaannya? Betahkah ia? Perasaanku sedih bercampur prihatin melihat kondisi luar rumah itu.

“Maaf, mencari siapa, ya?” Seorang wanita membuyarkan lamunanku.

“Eh, iya, Bu. Saya mau ketemu dengan Bu Aisyah.” Aku bangkit dan menyalami perempuan itu. Tapi aku terkejut melihat sosok di sebelahnya, “Ayah?”
Laki-laki berumur 55 tahun itu tak kalah terkejut. Ia tersipu menatapku dan Mas Zee secara bergantian.
Dua orang anak kecil berumur kurang lebih 10 dan 5 tahun berlari, menyelip dan bergelayut manja di antara mereka.

“Ayah?” Aku tidak salah?” Kuulangi pertanyaanku disela rasa terkejutku. Lelaki itu terlihat kikuk setelah menyadari keberadaan kami.

‘Iya, La. Ini ayah. Dan ini, Aisyah. Ibu kalian. Kenalkan!” Kuperhatikan sosok perempuan itu. Kurang lebih terpaut 5 tahun di atasku. Inilah sosok yang pernah ayah ceritakan, 10 tahun yang lalu, menjelang aku berangkat ke Malaysia. Dan anak-anak itu, mereka adalah adikku? spontan mereka tersenyum menyalami kami. Anak-anak yang ramah.

“Kalian baru sampai? Pasti lelah sekali.” Ayo, segera masuk. Parkirkan saja kendaraannya di sebelah rumah. Kampung kita ini aman kok!” Perempuan itu bergegas membuka pintu rumah. Terlihat tingkahnya agak kaku. Tampak ia berusaha menguasai diri dan mencairkan suasana.

Aku ikuti langkah perempuan itu. Mas Zee yang belum paham akan situasi ini hanya mengangguk. Berjalan ke bagasi mobil dan mengambil barang-barang bawaan kami.

“Kita rencananya akan tinggal selama dua minggu, Yah. Bolehkan? Mas Zee mulai bisa berbaur dengan suasana rumah itu. Makan malam kami sangat bersahaja. Duduk melingkar di atas tikar. Tanpa meja, kursi dan lemari makan. Bahkan untuk makan sekalipun, kami menggunakan piring plastik yang hanya diterangi lampu teplok (petromak mini) dengan tenaga minyak tanah.

“Tidak masalah. Asal kalian betah saja dengan situasi begini.” Ayah tertawa, terlihat dia sangat menikmati moment ini. Bahan mentah lemea sebagai sayur khas daerah kami kusajikan sebagai menu sore itu. Ditambah lauk dan sayuran siap saji yang kami beli di Pasar siang tadi. Tentunya prosesnya begitu mengesankan. Masak di atas tungku api berbahan bakar kayu. Tidak ada kompor sama sekali.

Aku terkesiap dengan sebuah pajangan foto di dinding. Foto Wisuda. Ada Ayah, Ibu dan Bila, adikku. Kuperhatikan tanggalnya, foto 5 tahun yang lalu.

“Itu foto ketika Ibu kalian wisuda.” Ayah langsung menjelaskan tanpa kutanya. “Bagi Ayah, Ibu kalian ini adalah harta karun. Bahkan lebih dari itu. Kalian tahu kenapa?” Ayah menggantung penjelasannya dengan bertanya kepada kami. Kulirik Ibu sekilas. Ia hanya tersenyum malu.

“Pasti karena sangat spesial, Ayah” Mas Zee berkomentar seadanya.

“Betul. Memiliki seseorang yang punya semangat belajar begitu tinggi adalah impian ayah sedari dulu. Seseorang yang tidak cepat puas dengan harta duniawi. Tetapi selalu menempa diri dengan belajar dan meningkatkan kualitas diri.” Dan itu Ayah temukan pada Ibu kalian.

“Pak, jangan berlebihan. Semuanya sudah ditakdirkan Allaah. Kita hanya berencana dan berupaya. Hasil adalah ketentuan-Nya.” Ibu seolah memotong pembicaraan Ayah untuk menjelaskan lebih banyak.
“Hm…, baiklah. Akan ada cerita bersambung sepertinya. Ada banyak cerita di balik foto Wisuda itu.” Ayah tertawa kecil sembari meneguk kopi hitam khas daerah itu.

Malam pertama di kampung itu kulewati dengan sejuta pertanyaan. Belum hilang rasa penasaranku akan sosok wanita yang begitu istimewa di mata Ayah. Akh, menurutku itu terlalu berlebihan. Apakah Ayah lupa masa 25 tahun bersama ibuku. Masa kecil kami yang indah dan tidak kurang suatu apa pun. Ada rasa cemburu tersimpan jauh di hati yang terdalam terhadap wanita itu.

Pukul 2.00 mata ini belum bisa juga kupejam. Hingga lantunan suara tadarus dari kamar sebelah yang lembut nan syahdu menjawab rasa penasaranku. Suara itu membuat hati tenang. Tertepis semua pertanyaan dan prasangka tentang wanita itu. Yang ada hanya rasa syukur, begitu mulianya hati wanita itu, seorang yang taat, sholehah, yang rela mendampingi dan merawat Ayah di masa tuanya. Wajarlah ayah menyebutnya harta karun.

Hampir satu jam lamanya . Hingga aku tak sadar kapan mata ini benar-benar terlelap.


NubarNulisBareng/MaySilla