Hari atau Hati yang Mempengaruhi Kehidupan?

Sudah sejak zaman nenek moyang, “Hari” sangat mempengaruhi kehidupan. Seolah-olah ada hari yang membuat sial dan kurang menguntungkan. Sebagai pengikut Tuhan, semua hari baik adanya dan bersumber dari “Hati”.

Semua tergantung isi hati seperti apa. Pikiran setiap manusia mempunyai kekuatan. Apapun yang dipikirkan dan ditanamkan di hati inilah sebenarnya yang membuat suatu keberuntungan atau tidak. Bahkan sampai terjadi hal terburuk. Kita harus berhati-hati dalam merespon apa yang sedang dihadapi.

Apapun yang pernah terdengar, pasti tertanam. Sejak aku belajar tentang The Power of Thinking dan mengalami sendiri semua masalah, baru aku menyadari bukan hari yang mempengaruhi kehidupan tetapi hati. Orang zaman dahulu kalau mau mengadakan acara, kebanyakan menanyakan kepada “orang pintar”. Hari apa yang terbaik untuk pertunangan apalagi pernikahan.

Padahal pengaruh apakah pernikahan bisa langgeng atau tidak tergantung pada pribadi masing-masing. Secara logika tidak mungkin karena menikah hari Senin atau hari Sabtu atau hari apapun, lalu terjadi perceraian. Semua tergantung bagaimana isi hati yang bersangkutan.

Zaman sudah berubah dan kita sebagai umat beriman sudah seharusnya lebih mendekat kepada Tuhan. Kita sering mendengar sugesti dari nenek moyang, bahwa banyak hal yang tidak boleh dilakukan dan harus memilih hari. Kita harus bijaksana menyikapi sugesti yang sudah turun temurun.

Alangkah baiknya kalau kita lebih sering membersihkan hati, sehingga hidup lebih tenang. Seperti beberapa tulisanku di web mentor dan penulis Ribka Imari https://imariscornerparenting.com . Bagi yang masih terngiang-ngiang sugesti-sugesti, lebih baik banyak berdoa dan meditasi. Kebanyakan orang yang sudah mendengar, pasti ada ketakutan sehingga hati tidak tenang.

Sebaiknya disesuaikan kemampuan, karena dengan ketakutan itulah bisa menjadikan kenyataan terhadap apa yang ditakutkan. Jaga hati sangat penting terutama masa pandemi ini. Pengaruh terhadap kehidupan sangat besar dibandingkan hari. Isilah hati dengan banyak hal positif, sehingga hari-hari kita terisi dengan banyak hal menyenangkan.

Bukan berarti apa yang dikatakan nenek moyang salah semua. Hanya saja belum dipahami maksud sebenarnya. Contohnya orang hamil tidak boleh “mbatin”(Bahasa Jawa) yang jelek-jelek. Memang benar, karena sangat mempengaruhi janin yang dikandung. Tetapi kalau ada sugesti, “Jangan makan 2 pisang yang lengket (menjadi 1), nanti anaknya seperti itu.” Ini yang aku kurang setuju.

Menurutku tidak ada hubungannya dengan makanan kecuali mentah. Hanya saja kalau sudah mendengar dan takut terjadi, bisa terjadi seperti yang ditakutkan. Makanya muncullah sugesti seperti itu karena pasti pernah ada yang mengalami seperti itu. Padahal apa yang dipikirkan, masuk ke dalam hati, muncul perasaan takut sehingga menghambat pertumbuhan janin.

Berhati-hatilah mengisi hati. Lebih baik sakit dan susah membersihkan hati. Prosesnya lama, tetapi hidup kita menjadi bermakna dan bisa memberi pengaruh baik kepada keluarga dan orang lain. Marilah kita isi hidup ini dengan hati yang murni dan hari yang penuh syukur dalam kondisi seperti apapun. Selamat berproses.

The Power of Thinkingđź’–

The Power of Forgivenessđź’–

Wenny Kartika Sari