HARAPAN

Ketika keadaan yang berbicara dan semua terasa berbeda.

Ketika harus mengalah dan memutuskan untuk berhenti sejenak di satu titik.

Berusaha memahami dan selalu berusaha mengerti, namun tak pernah ada timbal balik yang setara.

Dan ketika aku mulai mengerti bila di cintai lebih terasa bahagia daripada mencintai.

Wajar bila aku menginginkan nya. Namun segera aku terbangun dari mimpi semu.

Segera aku meyakinkan diri, meski mendesah dalam hati, menghela nafas berat, sedikit mulai bisa memaklumi.

Memang mungkin benar, seharusnya mengikuti arus air yang mengalir, meski deras namun tak takut hanyut.

Karena yang pergi belum tentu hilang.
Yang patah belum tentu mati. Yang tertinggal belum tentu gagal.

Karena sekeras apa pun suara semesta, tetap ada yang namanya harap.

Ada yang namanya doa.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu