Happy Family

Sumber foto: Dokumentasi pribadi edit by picsArt

Aku suka sekali menanamkan dalam pikiranku mempunyai Happy Family (Keluarga Bahagia) sejak kecil. Walaupun masa kecil hidupku sederhana, tetapi mendiang papi mengajarkan hidup mengandalkan Tuhan. Ternyata memang The Power of Thinking benar-benar luar biasa.

Apa yang kutanamkan sejak kecil sekarang terjadi seperti apa yang kupikirkan. Bahkan nama mendiang papi dengan suamiku sama yaitu Djiang. Dulu aku hanya kagum kok ada suami sebaik dan setia seperti papi. Ternyata suamiku pun seperti yang kumimpikan, bahkan sampai nama pun sama. Luar biasa!

Bahagia itu bukan berarti semua yang kita inginkan persis sama seperti itu. Bahagia adalah bagaimana kita bisa menerima apapun yang terburuk sekalipun. Kenapa sekarang begitu banyak keluarga terhempas? Itu karena belum berdamai dengan diri dari masing-masing pasangan.

Bukan aku mengatakan salah atau benar, itu kenyataan hidup bahwa manusia ego-nya luar biasa. Selain itu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Aku sendiri sudah praktek berdamai dengan diri sendiri, lebih mudah untuk bisa menerima apa yang tidak sesuai sekali pun dari suami.

Itu pun perlu waktu, semua yang terjadi ya apa yang kita pikirkan. Power-nya dahsyat sekali pikiran itu. Boleh percaya boleh tidak. Ini dari pengalamanku sendiri. Hal yang rasanya tak mungkin terjadi, selalu aku yakini Pasti Bisa Terjadi.

Padahal dulu aku sama sekali belum paham arti The Power of Thinking. Aku yakin ini buah dari doa dari anak kecil yang tidak tahu apa-apa, hidup seadanya. Aku benar-benar berserah total dan Mukjizat benar-benar terjadi.

Aku menikah cukup terlambat yaitu pada usia 33 tahun. Tapi aku bersyukur setelah mengetahui bahwa kalau belum berdamai dengan diri sendiri, entah menjadi seperti apa pernikahanku. Lebih baik terlambat tetapi sudah benar-benar siap, sehingga bisa bertahan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Bagaimana mungkin bila kita belum berdamai dengan diri sendiri, bisa berdamai dengan orang lain? Masih banyak orang belum memahami hal ini. Fokusnya selalu mengharapkan kebahagiaan dari pasangan karena ada luka batin masa kecil dan mau bebas dari itu. Mana bisa!

Ternyata banyak orang salah dalam membayangkan sebuah pernikahan. Seharusnya pernikahan sama-sama mengisi kotak kosong dengan CINTA. Masalahnya banyak yang belum paham tentang seluk beluk pernikahan.

Pesanku buat para konseli yang suka curhat tentang pacarnya, benahi diri dulu lebih baik. Nantinya kita akan berkurang untuk saling menuntut. Lebih baik memahami dan menerima kekurangan masing-masing, selalu mengingat kelebihan pasangan. Menyadari bahwa tidak mudah menjadi pribadi yang menyenangkan.

Pasti kita akan merasakan Happy Family bukan karena semua menyenangkan, tetapi mau menerima segala keadaan susah dan senang seperti janji suci dalam pernikahan. Aku sangat bersyukur dengan keluarga kecilku, bahkan mendapat hadiah istimewa dari Tuhan yaitu anakku tercinta Aurel.

Tetap semangat bagi teman-teman dan saudaraku yang sedang mengalami permasalahan dalam keluarga. Fokuslah pada pembersihan hati, bukan lagi pada kesalahan pasangan. Niscaya kebahagiaan itu akan datang dalam keluarga kita. Masalah pasti terselesaikan dengan baik.

The Power of Thinkingđź’–

The Power of Forgivenessđź’–

Wenny Kartika Sari