HANYA BISA MEMELUK JENAZAH BAPAK

Saat menulis ini, saya memang sedang teringat almarhum bapak. Bulan Juni ini adalah bulan meninggalnya Bapak pada tahun 2017 lalu. Tepatnya tanggal 4 Juni waktu itu Bapak saya meninggalkan kehidupan di dunia ini pulang ke haribaanNya memenuhi panggilanNya menutup mata di usia 68 tahun.

Bapak adalah sosok asing dalam hidup saya. Jika seorang anak menjerit menangis saat tiba masa perpisahan dengan ayah kandungnya karena takdir maut, maka tidak ada ratapan bagi saya di hari meninggalnya bapak. Saat itu saya tidak bisa menggambarkan persis bagaimana perasaan saya, yang jelas saya merasa tabah, tegar dan ikhlas yang terlihat dan tergambar dalam bahasa tubuh saya yang tenang atau lebih tepatnya datar.

Mengapa demikian? Cukup panjang jika saya kisahkan sebuah memoar tentang sosok bapak dalam hidup saya. Tidak ada indah indahnya, yang ada hanyalah hampa dan bayang-bayang semata. Saya menyimpan segala misteri perasaan sepanjang hidup. Namun hari ini saya memilih bercerita sebagai self healing saya atas trauma batin agar setiap sesak terhempaskan sedikit demi sedikit.

Barangkali, teman-teman yang mengenal sosok saya sebagai teman SD SMP SMA dan bahkan kampus S1 dan S2 serta teman di tempat saya bekerja selama ini menilai kehidupan saya mulus tanpa cela seiring pencapaian-pencapaian yang saya raih hingga saat ini. Tanpa bermaksud menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya ada dibalik semua itu, namun memang semuanya tertimbun begitu saja. Tak sengaja tersimpan di alam bawah sadar tidak terungkit atau terbaca siapapun. Sehingga penampakan saya cenderung ceria dan berprestasi.

Begitulah, di usia 43 pada tahun 2018 lalu saya mendeteksi adanya luka batin yang setelah saya konsulkan dengan psikolog ternyata ada dampak trauma perceraian dan kehilangan sosok bapak serta perlakuan ibu dalam goresan hidup saya. Antara terkejut dan bersimpuh memohon kesembuhan kepadaNya, saya mulai membuka mata hati tentang hal-hal yang tak pernah saya mengerti sebelumnya tentang makna luka batin bagi seorang anak namun terbawa hingga masa dewasa bahkan masa tua.

Hingga tiba di tahun 2021 inilah saya terus berproses dalam berbagai terapi. Salah satunya adalah melalui writing for healing (WFH) yang saya temukan formula ini dari mbak Ribka Imari Mentor InnerChild yang kini berteman di FB dengan saya (suatu hari saya akan menulis tentang peran beliau dalam proses terapi saya)

Kembali ke sosok bapak dalam hidup saya (alfatihah untuk almarhum bapak), saya benar benar merasa tidak memiliki hubungan atau ikatan batin dengan beliau. Singkat cerita, saya terpisah dari kecil karena bencana perceraian dan baru bertemu bapak di usia 15 tahun. Setelah itu hanya beberapa kali bertemu dalam suasana yang sangat formal dan sesaat-sesaat saja secara tidak sengaja. Bahkan pada hari pernikahan saya pun untuk menjadi wali nikah, ternyata menorehkan kisah tersendiri yang penuh “kesan”.

Musim berlalu, takdir berjalan sesuai alurnya. Saya hidup dalam tanda tanya dan ketidakmengertian atas kepincangan tanpa sosok bapak. Walau ibu saya mengasuh saya dengan baik dan ada dua kakak kandung laki-laki, namun tak pernah dapat melengkapi sayap yang patah. Secara batin, saya bukan saja terluka tapi ternyata memiliki kecacatan permanen. Setiap masa yang berlalu selalu bertabur rindu dan berhujan kangen akan pelukan seorang bapak, namun tak pernah terkabulkan.

Bapak yang diam tak pernah memberi penjelasan mengapa memutuskan memilih meninggalkan saya saat kecil dulu dan tak pernah benar-benar memberi kesempatan untuk menjadikan saya merasa sebagai anaknya. Bertemu bapak saat lebaran beberapa kali, bersalaman tanpa kesan dan bersapa hanya seperti formalitas. Begitulah takdir mewarnai lukisan kisah hidup saya .

Bahkan saya tak pernah mengerti apakah harus marah atas kenyataan itu, atau saya mesti bagaimana, entahlah semua dijalani begitu saja. Hingga suatu hari di bulan Juni 2017 saya ditelpon oleh kakak pertama saya pukul 12 malam untuk memberitahukan bahwa bapak telah pergi. Telah tiada. Telah meninggal untuk selamanya.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Saya terhenyak memaknai kepergian bapak kali ini. Sepagi mungkin saya mendatangi tempat beliau di semayamkan di rumah keluarganya. Saya mendapatinya setelah seluruh tubuh beliau terkafani dengan rapi. Tanpa ragu, saya mendekatkan tubuh saya, melingkarkan kedua tangan saya untuk memeluk dan mendekap hingga dadanya bersentuh dengan dada saya. Membuka sedikit kain di bagian wajahnya lalu saya tatap lama. Saya menikmati pertemuan paling berarti dalam hidup saya dengan bapak sekaligus merayakan perpisahan yang sangat mengiris perih hati saya.

Bapak, mungkin bapak ingat apakah kita pernah berpelukan. Tapi jujur saya lupa. Saya tidak ingat apakah saya pernah dipeluk bapak. Terimakasih jika pernah pak, namun jika tidak, maafkan selama ini saya tidak pernah memelukmu. Saya ingin tapi saya tidak tahu caranya. Saya tidak pernah diajak berpelukan. Tangan saya seperti tak bisa meraih bapak ke dalam pelukan saya. Atau entah saya terhalang apa hingga tak bisa berhambur ke dalam pelukan bapak.

Bapak, ijinkan saya kini memeluk bapak walau hanya bisa memeluk jenazah bapak. Bahkan saya ingin berlama-lama memeluk sebagai perayaan pelukan pertama dan juga perayaan pelukan terakhir. Tak apa walau hanya jenazahmu yang bisa saya peluk, yang penting saya pernah dibolehkan memeluk bapak oleh Allah. Namun, upacara pemakaman yang akan segera dilangsungkan menjeda pelukan dan menutup kisah kita di dunia. Kisah yang ada namun seperti tak pernah ada.

Bapak, selamat jalan. Semoga bapak temui kehidupan akhirat yang baik di sana. Dalam maghfirah rahmatNya. Dalam limpahan ampunanNya. Dalam anugerah cahayaNya. Saya memaafkanmu dengan seluruh ikhlas hati. Semoga kita bisa saling bercerita kelak di sana jika sudah waktunya tiba saya menyusul pulang kepadaNya.

Bapak, bagi saya engkau berarti meski hanya sebagai sayap terpisah dari sayap satunya lagi di hati ini. Saya baik baik saja meski hanya sayap ibu yang membuat saya tetap bisa mengepak mengudara. Tapi saya kan selalu menggenggam sayap bapak disini di kedalaman jiwa saya.

Saya menyudahi sapaan bisikan terakhir ke telinga bapak yang terbujur kaku. Derai air mata bagai gerimis terus menderas jatuh di pipi dan menggenangi perih hatiku.

Kini, empat tahun sudah saya meyakinkan diri bahwa rindu ini tak lagi seperti dulu. Rindu ini kini tak lagi bertepi. Rindu yang kan kutabung untuk ditumpahkan kelak entah kapan dan dalam keadaan bagaimana. Kini saya hanya bisa menyapamu dalam alfatihah.

Saya menyayangimu, Bapak. Semoga doa-doa saya sampai pada bapak di sana. Aamiin.

Bandung, Juni 2021

In memorian Bapak

Desember 1949 – Juni 2017

NubarNulisBareng/Lina Herlina

3 comments

  1. MasyaAllaah.juni ini ternyata kita sama” sedang merindukan Almarhum bapak, Teh lina.. bpk sy meninggal 3 tahun lalu.. sama rindu ini sudah berbeda…rindu kebersamaan dg bapak

    1. Hehe …iya teh baru sekarang berani menceritakan ini. Dulu tak berani entah kenapa …kita doakan semoga beliau bapak saya dan bapak teteh juga tenang di sana ya Aamiin ..