GURU PEMBELAJAR SIAP DALAM SEGALA KEADAAN

Sejak bulan Maret 2020 wabah Corona melanda Indonesia, hal ini berdampak terhadap berbagai kehidupan termasuk bidang pendidikan. Pembelajaran secara daring, luring maupun paduan daring dan luring menjadi cara utama yang dilakukan pemerintah dalam rangka memberikan layanan pendidikan sampai tahun pembelajaran 2019/2020 berakhir dan masih akan menerapkannya hingga tahun ajaran baru 2020/2021 yang akan dimulai pada tanggal 13 Juli 2020.

Pembelajaran tahun ajaran baru pun tiba. Pembelajaran melalui daring maupun tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat membayangi proses kegiatan belajar-mengajar. Ada banyak penyesuaian perlu dilakukan guru terutama perihal ketercapaian kurikulum. Kurikulum di era pandemi Covid-19 tentunya bukan kurikulum baru, tetapi sebagai “kurikulum darurat kebencanaan” yang juga bisa diintegrasikan ke dalam kurikulum 2013. Kurikulum darurat ini harus dirancang dengan tetap berorientasi pada kebutuhan anak agar mereka mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Sebagaimana ditekankan oleh Kemdikbud, agar pembelajaran tidak harus terfokus kepada pencapaian seluruh target kompetensi, tetapi membangun kecakapan hidup (life skill) dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Tidak adanya kepastian dari pemerintah terkait kurikulum darurat Covid-19, maka satuan pendidikan, guru dan tenaga kependidikan harus segera melakukan penyesuaian kurikulum. Baik kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran secara tatap muka langsung maupun Pembelajaran Jarak Jauh dengan segala keterbatasan yang ada. Hal penting yang harus dibahas pertama kali yaitu pengaturan materi yang disampaikan kepada siswa, strategi dalam menyampaikan materi, serta sumber, media dan sarana pembelajaran yang digunakan. Durasi penyampaian materi juga mengalami perubahan yang tadinya 45 menit menjadi 20 sampai 25 menit. Penilaian hasil belajar, jadwal pelajaran baik daring, luring atau kombinasi (blended learning) juga harus dirancang sedemikian rupa sehingga pembelajan tetap berjalan dengan memperhatikan protocol kesehatan. Pola komunikasi dengan orang tua siswa juga tak kalah penting untuk mendapatkan perhatian khusus demi tercapainya kegiatan pembelajaran.

Konsekuensi dari Pembelajaran Jarak Jauh maupun tatap muka pada masa pandemi ini, adalah guru-guru harus mampu menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Utamanya untuk digunakan pada pembelajaran daring. Penguasaan TIK menjadi hal yang mutlak diperlukan oleh setiap orang termasuk oleh guru, karena sudah banyak aktivitas masyarakat baik dalam bidang telekomunikasi, ekonomi, sosial termasuk bidang Pendidikan dilakukan secara digital. Menurut Rizal (Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan) menjelaskan yang perlu dipikirkan oleh guru dan sekolah saat ini adalah segera menyiapkan konsep dasar serta pelaksanaan “kurikulum ketahanan diri” yang terdiri atas ketahanan fisik, mental, dan sosial. Hal tersebut dirasa sangat penting karena anak-anak perlu beradaptasi hidup di suasana yang berbeda dari biasanya karena pandemi belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Pembukaan kembali sekolah dengan tatap muka, selain karena sekolah berada di zona hijau juga didukung oleh guru-guru yang belum siap menyelenggarakan kegiatan Pendidikan di rumah atau PJJ, terlepas dari faktor berbagai keterbatasan fasilitas dan juga kerinduan bertemu dengan para siswa. Banyak guru masih nyaman dengan mengandalkan model pembelajaran berpusat pada guru. Oleh sebab itu, pemerintah perlu juga memberikan pelatihan TIK bagi guru di masa pandemi ini. Saya berpendapat bahwa pelatihan TIK bukan lagi bersifat sukarela tetap wajib diikuti olah guru untuk mendukung pelaksaan pembelajaran jarak jauh. Kreativitas dan inovasi mutlak dimiliki guru. Selain itu, guru juga harus dilatih untuk mampu melakukan Pemetaan Kompetensi Dasar, yakni mana materi yang harus diberikan oleh guru secara langsung maupun online. Apapun keadaannya guru harus siap memberikan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Penanaman Karakter mandiri dan senang belajar peserta didik seyogyanya lebih diutamakan.

Saat ini, era internet, era disrupsi, siswa dengan mudah mendapatkan materi pelajaran di internet. Mungkin lebih lengkap dari materi yang disampaian di kelas. Para peserta didik secara umum sudah banyak yang melek teknologi, bisa mengoperasikan smartphone, bahkan lebih piawai dari orang tuanya, sehingga, menurut saya, mereka pada dasarnya siap kalau harus mengikuti pembelajaran daring dengan menggunakan media digital, tentu saja dengan dukungan sarana, sinyal internet yang stabil, dan kuota internet yang memadai. 

Oleh sebab itu guru harus berdamai dengan teknologi dan keluar dari zona nyaman. Pola pikir yang menganggap bahwa guru sebagai satu-satunya sumber pembelajaran harus mulai dihapuskan. Guru dituntut untuk berkreasi dalam menyajikan materi, terampil menggunakan teknologi, merancang kelas yang menyenangkan hingga anak-anak tertarik untuk belajar meski mereka tidak ada dihadapan. Guru mengajar belum tentu siswa belajar oleh sebab itu menumbuhkan nilai-nilai dan karakter baik kepada siswa merupakan tugas utama, karena itu tidak bisa digantikan dengan teknologi.

Semoga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik walau dalam situasi dengan penuh keterbatasan. Sehingga harapan Presiden tentang arah pendidikan dapat terlaksana, yaitu membentuk sumber daya manusia yang unggul di masa depan, berkarakter, berakhlak mulia, meneguhkan nilai budaya Indonesia dan Pancasila. Wallaahu a’lam.