Gara-Gara Terpaksa

Gara-Gara Terpaksa

“Saya bisa mengendarai motor itu karena terpaksa, daripada waktu habis di jalan. Ribet kalau setiap hari pp dari rumah ke tempat kerja memakai kendaraan umum. Mumpung ada motor suami nganggur di rumah.”

“Saya terpaksa belajar menyetir mobil, karena agak rikuh kalau membawa anak-anak yang masih kecil dengan memakai kendaraan umum. Rasanya kurang nyaman dan tidak safety. Suami tinggal di luar kota dan pulang hanya sepekan sekali.”

“Saya terpaksa bisa menulis juga akhirnya. Padahal asalnya mau undur diri dari proyek nulis dengan teman. Saya nggak yakin bisa menulis dengan hasil bagus, karena masih newbie.

Pernah menghadapi situasi “terpaksa” melakukan sesuatu yang sebelumnya dirasa mustahil, Sobat? Bagaimana rasanya setelah “nyatanya” bisa juga kita menyelesaikan hal mustahil tersebut? Amazing? Merasa diri lebih keren? Merasakan suatu kebanggaan? Menyadari betapa mudahnya setelah berhasil menaklukkan satu tantangan?

Nyatanya memang suatu hal yang nampaknya mustahil, bisa kita kerjakan bila merasa “terpaksa”. Terpaksa dalam arti positif tentunya. Terpaksa bisa menyetir. Terpaksa bisa menjahit. Terpaksa bisa membetulkan kabel alat elektronik sederhana, dan sebagainya. Padahal, sebelumnya kita tidak pernah mau mencobanya. Kita cenderung merasa diri tak mampu, karena masih ada orang lain yang bisa dimintai bantuan dan diandalkan. Betul?

Kita baru benar-benar mencoba ketika sudah tidak ada lagi yang bisa diandalkan atau dimintai pertolongan. Dalam keadaan terjepit dan urgent. Tidak sempat mencari bantuan atau orang yang sering dimintai bantuan sedang berhalangan untuk membantu. Di situ muncullah kenekatan yang lahir dari rasa “terpaksa”.

Wah, ternyata merasa terpaksa tidak selalu buruk, ya? Buktinya kita jadi bisa mengerjakan sesuatu yang dulu dianggap mustahil untuk dikerjakan. Rasanya ternyata tak sesulit yang pernah diduga sebelumnya. Batas atau dinding penghalang antara rasa tidak percaya diri dan mampu berbuat sesuatu yang disangkakan mustahil, roboh sudah.

Maka berbangga hatilah. Bersyukur bahwa kita mampu dan bisa. Tak selamanya mengandalkan orang lain itu baik dan tak selamanya mencoba sesuatu yang berbeda, terpaksa atau memaksakan diri itu buruk. Trial and worked. Succesfull! Bukan trial and error.

Nah, merasa “terpaksa” saat memaksakan diri terbukti mampu membuat kita menjadi “the new people” orang yang baru. Berbeda dengan yang kemarin. Satu persatu, pintu yang selama ini mengungkung, terbuka. Out of the box itu asyik. Keluar dari zona nyaman itu sebuah tantangan yang seru. Memacu adrenalin.

Bisa mulai menerima “keterpaksaan” sebagai solusi dari permasalahan kita sehari-hari? Ingat. Banyak tokoh terkenal yang mendunia karena berawal karena”terpaksa”. Kita mau mengikuti jejak mereka?

***

rumamediagrup/rheailhamnurjanah