GAMIS UNTUK AISYAH

“Mi, Aisyah kepengen punya gamis lagi deh.”

Tiba-tiba saja sulungku berkata, mengejutkan aku yang sedang serius membungkus lontong. Ya, aku berjualan lontong isi di sore hari bersama beberapa gorengan sebagai menu berbuka puasa.

Aku seperti tersadar, sudah lama Aisyah tidak beli gamis. Semua gamis yang dia punya, sudah kekecilan.

“InsyaAllah ya Nak, kalau Abi sudah pulang kita beli gamis,” jawabku menenangkan hatinya.

“Terima kasih ya Mi,” sahut Aisyah penuh binar bahagia.

Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Asar nanti semua harus sudah matang untuk dijual. Sambil berdoa dalam hati, semoga suamiku yang bekerja di kota lain, bisa pulang cepat jauh sebelum Idul Fitri tiba.

Tak terasa hari terus berlalu, takbir sudah berkumandang. Memberikan kesan syahdu di hati dan rasa rindu akan Ramadan mulai terasa.

“Mi, abi pulang kapan ya?” tanya Aisyah.

Ya Allah, teringat aku kalau Aisyah belum jadi membeli gamis baru. Tatap mataku getir dengan senyum yang aku paksakan.

“Besok Aisyah pakai baju apa ya Mi?”

“Coba cek lemari baju kamu Nak, baju apa yang masih muat. Tak mengapa ya Nak tidak baju baru yang penting bersih,” aku mencoba menghibur sulungku. Walaupun sesungguhnya, aku tidak pernah membiasakan baju baru saat hari raya tapi kali ini terasa beda karena baju Aisyah sudah banyak yang kesempitan.

“Iya Mi, Aisyah lihat-lihat dulu ya? Kalau tidak ada, boleh gak pakai gamis lama Umi?” tanya Aisyah meminta izin.

“Boleh sayang,” ujarku sambil membelai rambutnya. Tampaknya Aisyah sangat ingin memakai gamis, tak perlu baru tapi yang penting gamis.

“Assalamualaikum,” terdengar suara dari luar.

“Mi, seperti suara abi, abi pulang Mi,” seru Aisyah sambil berlari menuju pintu.

Dalam hati aku bersyukur, suamiku pulang tepat sebelum Idul Fitri sehingga kami bisa berkumpul bersama merayakannya. Satu yang pasti, Aisyah bisa segera memiliki gamis baru.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie