Gado-gado Karet Dua

Gado-gado Karet Dua

Hari itu entah mengapa, tetapi rasanya malas sekali untuk memasak. Cek-cek grup Whatsapp kantin perumahan, ternyata ada yang menjual gado-gado.

“Mas, kita beli gado-gado, yuk!” ajakku pada suami.

“Boleh. Tapi aku enggak pedas ya,” pesannya.

Suamiku berasal dari Minang. Namun, dia tidak begitu menyukai pedas. Lama di Yogyakarta saat kuliah, membuat lidahnya sedikit berhaluan rasa.

Tak memakan waktu lama, gado-gado yang dipesan telah diantar oleh seorang wanita. Tinggal di perumahan ini sangat menyenangkan. Banyaknya ibu-ibu yang berjualan digabungkan ke dalam sebuah grup Whatsapp bernama Kantin Perumahan. Sehingga sangat mudah menemukan sesuatu yang ingin dibeli. Aku hanya perlu scroll up dan scroll down kursor di layar ponsel lalu pilih, pesan, dan … tara! Pesanan datang.

Setelah membayar, aku membawa gado-gado ke meja makan. Tanpa bertanya atau memeriksa isi bungkusan gado-gado, suamiku langsung mengambil satu, membukanya, lalu menambahkan nasi. Kebetulan gado-gado yang dipesan tanpa lontong

“Mas, kok, enggak dicek dulu? Kamu yakin kalau yang punyaku ini pedas dan yang diambil itu tidak pedas?” tanyaku memastikan.

“Iya. Biasanya yang karet dua itu pedas,” jawabnya sambil mengaduk gado-gado dan nasi.

Tanpa rasa ragu, suamiku langsung memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Sementara aku hanya mencicipi sedikit gado-gadoku.

Kenapa yang ini manis? Aku menduga suamiku telah salah ambil.

Baru saja aku hendak berkomentar, tetapi sudah terdengar teriakan sang suami. “Yang, ketuker! Pedes banget, nih.”

 “Makanya, Mas, cek dulu,” ujarku.

“Ya, biasanya karet dua itu pedes,” sahut suamiku sambil meminum air putih.

Kisah tersebut membuatku berpikir, terkadang kita salah mengambil langkah karena berpatokan pada “biasanya”. Biasanya dulu anak baru lahir bisa diberi makan pisang rebus. Namun, ternyata hasil penelitian para ahli kini menyatakan bahwa bayi baru lahir belum boleh diberi makanan apa-apa, kecuali ASI atau susu.

Biasanya, kalau tiba-tiba ada bau melati, pasti ada si tante “K” datang. Nyatanya belum tentu, bisa jadi ada tetangga yang menanam bunga tersebut. Kemudian, aromanya tertiup angin dan tercium oleh hidung kita.

Tabayyun yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pemahaman, penjelasan, adalah penelusuran tentang kebenaran suatu permasalahan dari beragam sumber yang benar. Sebaiknya saat menemukan masalah atau ketika hendak membuat suatu keputusan, sebaiknya kita tabayyun terlebih dahulu. Tidak hanya berdasarkan prasangka atau “biasanya”.

Seperti kisah gado-gado karet dua. Jika tidak menilai sesuatu dari biasanya, tetapi tabayyun terlebih dahulu. Maka, sang suami tidak akan salah makan.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Jangan lupa makan siang dan tetap sehat.

Nubar-Nulis Bareng/Asri Susila Ningrum