FILOSOFI HELM TRIO DAGAN

Filosofi Helm Trio Dagan

Hai semuanya, bertemu kembali dengan Sabtu seru dalam challenge  RNB Batch 3. Di Sabtu seru ini para peserta (termasuk saya) diminta mendeskripsikan sebuah gambar yang unik.

Apa yang kalian bayangkan saat melihat gambar di bawah ini? Dalam gambar itu, terlihat ada 3 orang laki-laki sedang berdiri di depan sebuah gedung. Di sekitarnya banyak orang yang berkerumun. Uniknya mereka memakai helm modifikasi berbentuk ketel dan gas melon.

Kalau saya sendiri, hanya bisa berkomentar, para pembuat helm modifikasi itu bisa dibilang kreatif dan inovatif walaupun  saya menangkap ada maksud sindiran secara terselubung. Sebagaimana  dalam kisah di bawah ini.

***

Suatu hari, Amir dan Anto sedang main di rumah Udin. Mereka dikenal dengan trio DAGAN. Julukan itu mereka dapat sejak masa SMA karena mereka memang dikenal karena kegantengan wajahnya. Ya, mirip dikit sama Oppa-Oppa Korea-lah. bedanya di warna kulit aja, kalau Oppa Korea berkulit putih, sementara mereka berkulit sawo matang. Mereka cukup famous di sekolah dan mendapat julukan DAGAN (pemuda ganteng) dari para siswi.

Teh hangat dan sepiring pisang goreng terhidang di meja.  Nampak menggiurkan. Namun Amir dan Udin masih fokus pada papan catur di hadapan mereka, sementara Anto sibuk dengan gawainya.

“Mir, masih ingat nggak ini foto waktu kita seseruan dulu?” katanya sambil menunjukkan sebuah foto yang terpampang di gawainya.

“Ingat dong! Itu kan pengalaman pertama ikut demo. Iya kan, Din?” jawab Amir tanpa melepaskan pandangan dari buah catur. Ia sedang mengatur strategi untuk mengalahkan Udin.

“Ngomong-ngomong kamu beli helm di mana? Bentuknya unik. Punyaku bentuknya gas melon, Punyamu dan Amir bentuknya kayak ketel gitu?” tanya Udin sambil menyeruput teh hangatnya.

“Ini yang buat kan Mang Ujang. Dia memang punya jiwa seni yang cukup tinggi.” Jawab Amir masih dengan fokus tingkat tinggi.

“Kok bisa ya kepikiran buat helm model begini?” Anto terkekeh geli.

“Kan menyesuaikan tema, kita mau minta naik gaji. Bayangkan gas saja harganya naik, masa gaji kita gitu-gitu aja.” ujar Amir. Udin hanya manggut-manggut mengiyakan.

“Iya sih, udah harganya naik, sulit dicari pula. Eh, kalau ketel maksudnya apa ya?” sahut Udin kemudian.

“Ini sama, kita kan sedang kekurangan air gara-gara kemarau panjang. Alhamdulillah ada bantuan subsidi air, tapi masa kita juga harus bayar lumayan mehong. Atuh udah mah gas harganya naik, masa bayar air juga?” keluh Amir.

“Makanya kita ikutan demo, terus pakai properti yang mendukung, harapannya pihak perusahaan paham apa yang kita inginkan.” Anto menyela

“Tapi sayang yah, gara-gara ikut demo, kita bertiga jadi harus dirumahkan. Katanya pemangkasan pegawai karena kondisi perusahaan sedang pailit. Tapi coba deh perhatikan, masa yang dirumahkan kebanyakan yang kemarin ikut demo.” tiga kerutan muncul di dahi Anto.

“Ya udahlah, mungkin bukan rezeki kita. Yah.” Jawab Udin bijak

“By the way, daripada capek dan sedih mikirin bos yang galak dan kita yang kena PHK, mending berkarya sendiri saja lebih puas. Kamu kan hobi nulis tuh Mir, cerita di komunitas FB-mu banyak yang suka. Ya udah kembangin itu saja.” Anto memberi masukan ke Amir.

“Memang iya, kalau kalian lagi asyik main game online, aku asyik menulis cerbung. Memanfaatkan gawai dengan hal positif Tahu nggak satu-satunya pekerjaan yang nggak memiliki bos adalah penulis. Bos-nya seorang penulis adalah impiannya sendiri.”  ujar Amir.

“Oke deh, semoga menjadi penulis terkenal ya Amir,” sahut Udin dan Anto barengan.

***

_Wina Elfayyadh_

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week3day6
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup