Ferdian Paleka dan Karakter Anak Bangsa

Youtuber bernama Ferdian Paleka membuat kisruh pemberitaan media di tengah pandemi covid-19. Ferdian bersama dua orang temannya membuat video prank terhadap beberapa orang transpuan di Bandung, Jawa Barat. Dalam video tersebut, terlihat beberapa kardus mie instan di bagasi mobilnya. Kardus yang disebutnya berisi sembako ternyata berisi sampah dan batu. Kardus tersebut dibagikan kepada beberapa orang transpuan yang sedang melintas.

Awalnya, para transpuan yang menerima sembako tersebut merasa sangat senang. Terlihat dari raut wajah mereka yang sumrigah ketika kardus tersebut mendarat di tangan mereka. Sangat wajar memang. Saat kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini tentu banyak orang yang mengharapkan bantuan.

Namun, setelah mengetahui isi kardus tersebut, para transpuan melaporkan aksi Ferdian tersebut kepada polisi. Kecewa dan merasa dilecehkan tersirat dari wajah mereka.

Tidak hanya para korban, para netizen yang menonton akun youtube Ferdian tersebut juga mengecam dan meminta polisi untuk mengungkap kasus tersebut. Polisi pun bergerak cepat dan segera menangkap dua orang teman Ferdian.

Beberapa hari kemudian saat dalam pencarian polisi, Ferdian membuat video yang isinya tentang permintaan maaf, tapi bohong. Dia meminta maaf atas kelakuannya tapi diakhiri kata ‘tapi bohong’. Dia tidak benar-benar meminta maaf.

Sampai akhirnya dia ditangkap dan dihukum penjara selama 12 tahun. Ferdian dan teman-temannya mengaku bahwa video prank tersebut hanya untuk bahan candaan. Dia mengatakan bahwa di bulan ramadan tidak seharusnya para transpuan berkeliaran karena ramadan adalah bulan yang suci.

Berbeda dengan penuturan dari polisi, video tersebut dibuat karena Ferdian dan teman-temannya ingin menambah jumlah followers dan viewer pada akun youtubenya. Dan ide pemberian sembako berisi sampah dan batu tersebut adalah ide dari mereka bertiga.

Apapun alasan dan tujuannya, perilaku Ferdian dan teman-temannya sangat tidak etis. Mereka merendahkan suatu komunitas dan membohongi publik. Terjadi krisis pendidikan karakter dalam diri mereka.

Video ngeprank orang lain sedang viral akhir-akhir ini. Biasanya video tersebut bertujuan untuk hiburan/gurauan saja. Jika yang membuat konten memiliki karakter yang baik maka video yang dihasilkan juga akan bermanfaat bagi orang lain. Misalnya saja Baim Wong, seorang artis sekaligus youtuber yang juga suka membuat video prank. Baim pernah berpura-pura menjadi orang gila namun akhirnya memberi uang kepada orang-orang di pinggir jalan.

Pendidikan karakter seyogianya dikenalkan sejak dini dari rumah, sekolah dan lingkungan sekitar. Pendidikan karakter harus menjadi gaya hidup untuk menghadapi anak-anak zaman sekarang.

Kreativitas anak-anak zaman milenial terbilang tidak terbatas. Jaringan internet yang semakin luas memudahkan mereka mengasah kreativitas melalui banyak aplikasi dan media sosial. Jika kreativitas tidak diimbangi dengan karakter yang baik maka akan menghasilkan generasi asal upload tanpa mempertimbangkan ini dan itu.

Mumpung sedang di rumah saja, mari kita benahi karakter anak-anak kita agar tercipta generasi yang berhati-hati dalam bersikap, peka memikirkan perasaan orang lain dan tidak memandang rendah orang lain. Semoga kasus Ferdian dan teman-temannya menjadi yang terakhir dan pembelajaran berharga bagi kita semua.