Fanoos, Hadiah Terindah untuk Naura

“Au…!” Naura kembali mengaduh.

Ini adalah yang kesekian kalinya kaki kecil Naura terantuk benda-benda di sekitarnya. Gadis manis berambut keriting itu berusaha meraba-raba apa yang ada di hadapannya. Ia belum terbiasa dengan rumah baru yang ditempatinya sekarang. Orangtuanya baru sebulan dipindah tugaskan ke negeri piramid ini. Naura harus belajar lagi mengenal seluk beluk rumahnya agar tidak terbentur ketika berjalan.

“Au…!” lagi-lagi Naura mengaduh kesakitan.

“Naura istirahat dulu, ya. Nanti kalau Ummi sudah selesai memasak, Naura akan Ummi temani mengenal rumah baru kita.”

“Tidak mau! Naura tidak suka seperti ini, Ummi. Naura ingin melihat seperti dulu,” kata Naura sambil berusaha berdiri dan mulai meraba-raba.

“Sabar, ya, Sayang. Abi sedang mengusahakan mencari donor mata di sini,” hibur Ummi.

Naura adalah gadis periang dan lincah, ia sangat suka kunang-kunang. Gadis berbulu mata lentik itu sama sekali tidak menduga akan mengalami hal seperti ini. Tidak melihat. Semua menjadi gelap seketika. Semua terjadi tatkala sepeda yang dinaikinya oleng dan kepalanya membentur bahu jalan. Kunang-kunang kesukaannya tak lagi mampu ia pandangi, apalagi sekarang ia harus pergi jauh dari negeri lahirnya, Indonesia. Memulai kisah baru di negerinya raja fir’aun.

***

“Assalamualaikum,” sapa seorang gadis berkulit hitam kepada Naura.

“Waalaikum salam,” jawab Naura tanpa menoleh, ia masih asyik mendengarkan lagu Wahawi ya wahawi.

“Naura,” sapa gadis itu lembut.

“Iya, Maryam.” Ternyata Naura tak bisa mengacuhkan temannya itu. Maryam adalah sahabat barunya di Mesir ini. Maryam sangat baik dan ramah, Naura senang sekali berteman dengannya. “Maryam, apakah kamu suka kunang-kunang?” tanya Naura.

“Kunang-kunang? Apa itu?” Maryam malah balik bertanya karena kebingungan.

“Masa kamu tidak tahu, kunang-kunang itu serangga kecil yang tubuhnya bercahaya. Ia akan terlihat sangat indah jika kau melihatnya malam hari,” kata Naura antusias mengingat kembali kisahnya dengan kunang-kunang.

Maryam menggelengkan kepala, tapi akhirnya ia tersadar jika Naura tak bisa melihat gerakan kepalanya. “Oh, kalau benda berkilau yang indah di malam hari, aku sering melihatnya setiap tahun di sini.”

“Oh, ya! Tapi kenapa setiap tahun? Bukannya kunang-kunang itu selalu ada.”

“Tidak! Aku tidak bercerita kunang-kunang. Aku bercerita tentang fanoos.”

“Fanoos?” Naura tampak sangat kebingungan dan penasaran. Ia berpikir apa ada hewan lain yang bersinar seperti kunang-kunang. Tapi, hewan apa yang berkilau hanya setahun sekali?

“Iya, fanoos. Itu nama benda bukan hewan. Ia adalah lentera yang hanya ada saat bulan Ramadhan tiba. Semua rumah dan jalan di Mesir akan dipenuhi dengan fanoos,” kata Maryam penuh semangat.

“Wah, pasti sangat indah. Sayang sekali aku tak bisa menyaksikannya,” lirih Naura.

Maryam merasa tak enak hati dengan Naura, “maafkan aku. Aku tak bermaksud membuat Naura sedih.”

“Tidak apa-apa. Doakan saja semoga Abi dan Ummi berhasil mendapatkan donor mata untuk Naura.”

“Aamiin,” sahut Maryam.

Hari menjelang sore, Maryam kemudian pamit pulang setelah ayahnya datang menjemput. Naura kembali sepi, sendiri di kamarnya sambil membayangkan bagaimana indahnya fanoos.

“Ah, andai saja  aku bisa melihat. Pasti akan sangat mengasyikkan seperti aku melihat kunang-kunang dulu,” kata Naura sambil terus bermimpi suatu saat matanya kembali seperti semula.

bersambung…

Akankah Naura dapat melihat kembali kunang-kunang? Ataukah ada hal lain yang akan terjadi?

Ya, setiap kehidupan akan selalu penuh misteri. Nantikan kelanjutan kisahnya di bagian 2.

nubarnulisbareng/walidahariyani