EKSPEKTASI KEBAHAGIAAN

“Andai saja suamiku begitu, pasti aku bahagia”
“Kalau saja anak kita seperti anak si A, pasti senang sekali yah…”
“Coba orang tuaku perhatian dan sayang seperti orang tua B, pasti aku bahagia sekali, sayang aku ga seberuntung itu.”

Ini hanyalah sedikit contoh dari banyaknya potensi keluhan dalam hidup kita. Keluhan yang menjauhkan kita dari perasaan bahagia. Potensi itu memang ada dimana-mana.

Tanpa disadari, kita meletakkan ‘syarat’ bahagia di tempat yang sulit dijangkau. Kebahagiaan kita tergantung dari baiknya pasangan, anak, orang tua, saudara, pekerjaan, uang, bahkan cuaca.

Kebahagiaan yang sebenarnya berasal dari dalam diri sendiri, menjadi sulit didapatkan karena kita malah meletakkannya di luar kontrol kita.

Belum lagi ekspektasi atau harapan kita kepada hal-hal di luar kontrol tersebut demikian besarnya. Mengharapkan orang tua seperti ini, anak seperti itu, saudara, pasangan, pekerjaan sesuai apa yang menjadi idaman kita.

Sayangnya, sangat besar kemungkinan mereka tidak berlaku sesuai harapan kita. Lalu kita menjadi kecewa dan tidak bahagia. Bayangkan jika itu terjadi sepanjang hidup kita. Betapa tersiksa dan menderitanya.

Satu cara efektif untuk mengakhiri semua kekecewaan dan ketidakbahagiaan tersebut adalah :

  1. Berhenti mensyaratkan kebahagiaan pada orang lain atau keadaan di luar kontrol kita.
  2. Berhenti berekspektasi pada orang lain atau sesuatu.

Tanpa ekspektasi, tidak akan ada kekecewaan. Namun jika ternyata kita mendapatkan sesuai atau mendekati yang kita inginkan, maka perasaan bahagia kita bahkan akan menjadi berlipat-lipat besarnya.

Kebahagiaan datang, saat kita mengontol sendiri letak kebahagiaan dan berhenti berekspektasi pada hal-hal yang tak bisa kita kendalikan.

Renny Artanti
STIFIn Family & Business Trainer
Co-Founder of Xcellence International Training