Eksistensi Guru di Penghujung Pandemi (Oleh: Uty Agusriati)

Sumber:Suara muslim.com

Pandemi wabah global Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda Indonesia terus menjadi buah bibir di semua kalangan. Sejak ditetapkan oleh WHO tanggal 30 Januari 2020 sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC/KKMMD), yakni kedaruratan kesehatan yang menjadi perhatian internasional,  wabah ini terus bertambah. Data terakhir yang diumumkan oleh Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Republik Indonesia pada Selasa, 26 Mei 2020, Achmad Yurianto mengatakan bahwa telah terjadi penambahan kasus, baik yang positif, dinyatakan sembuh, maupun meninggal dunia. Kasus baru bertambah 415 orang, sehingga total pasien positif virus corona berjumlah 23.165 orang. Pasien yang dinyatakan sembuh bertambah sejumah 235 orang, sehingga total sembuh tercatat 5.877 orang.  Pasien meninggal dunia bertambah sebanyak 27 orang, sehingga total 1.418 orang. Penambahan kasus-kasus tersebut serta merta menjadi polemik ketika pemerintah mulai menyinggung akan menerapkan Indonesia New Normal, sementara di lapangan korban semakin bertambah.

Pandemi Covid-19 sudah tiga bulan meluluhlantakkan hampir semua sektor kehidupan termasuk sector pendidikan.  Organisasi Pendidikan PBB/Unesco pada bulan Maret lalu bahkan menyatakan bahwa hampir 300 juta siswa di seluruh dunia terganggu kegiatan sekolahnya dan terancam berdampak pada hak-hak pendidikan mereka di masa depan.  Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi dan Birokrasi (Menteri PAN-RB) pun melalui surat edarannya terus memperpanjang masa untuk stay at home, home learning and work from home.

Himbauan ini bukan berarti meniadakan pelayanan publik.  Kinerja pendidik dan tenaga kependidikan dalam hal ini adalah guru yang melayani peserta didik juga dituntut dalam waktu sekejap bertransformasi untuk beradaptasi melakukan pembelajaran dari rumah melalui moda daring /online tentunya dengan pengkondisian yang dipaksakan.

Keadaan ini pastinya  bukanlah hal yang mudah karena belum sepenuhnya siap.  Akan tetapi guru adalah pilar utama pendidikan. Keberhasilan pembangunan negara salah satu tolok ukurnya adalah keberhasilan pendidikan.  Guru dituntut tidak hanya sebagai tenaga pengajar tetapi juga meliputi tugas relevan kependidikan lainnya seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama 1) mendidik, 2) mengajar, 3) membimbing, 4) mengarahkan, 5) melatih, 6) menilai, dan 7) mengevaluasi.  Sebagai tenaga profesional guru berfungsi sebagai agen pembelajaran, yakni agen yang tetap meningkatkan mutu pendidikan nasional walaupun di tengah wabah pandemi.

Mencerdaskan anak bangsa tidak mengenal ruang dan waktu.  Meski di tengah pandemi, guru di tengah keterbatasannya terus dituntut tetap melaksanakan beban kerjanya dan mampu menggunakan teknologi dan informasi yang selanjutnya diimplementasikan dalam proses  belajar. Whatssap, Google Classroom, Instagram. Telegram, Zoom, Webex dan lainnya adalah bukti inovasi pembelajaran yang dilakukan guru. Plus minus pembelajaran moda daring seperti kendala peserta didik yang tidak memiliki sarana komunikasi, tidak ada quota, jaringan internet, penguasaan teknologi yang rendah, dan daya dukung orangtua menjadi motivasi tersendiri bagi guru yang terus berinovasi.

Tidak dipungkiri bahwa walaupun guru dalam kesehariannya dekat dengan ilmu pengetahuan, akan tetapi tidak sedikit guru yang masih latah dalam menerima informasi dan gagap dalam mengoperasikan teknologi digital. Salah seorang pengamat pendidikan, Indra Charismiadji pernah menyoroti bahwa guru yang gaptek teknologi sejumlah 97,5%.  Hal ini diperkuat oleh Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Kapustekkom Kemendikbud) Gogot Suharwoto mengatakan hanya 40 % guru nonteknologi yang siap dengan teknologi. Padahal zaman revolusi industry 4.0 sekarang ini, teknologi yang dimiliki oleh guru dapat dimanfaatkan untuk mendukung pola belajar dan pola berpikir serta mengembangkan inovasi kreatif dan inovatif dari peserta didik guna mencetak generasi penerus bangsa yang unggul, kompeten, dan kompetitif.

Akan tetapi, pandemi telah menjadikan bangkitnya guru-guru milenial di Indonesia.  Dalam kondisi keterpurukan, tidak sedikit guru milenial yang bangkit dan berhasil menguasai teknologi pembelajaran.  Memanglah tepat jika ada rumor bahwa teknologi tidak akan pernah menggantikan guru. Tetapi guru-guru yang tidak paham teknologi, suatu saat akan digantikan oleh guru-guru yang paham dan menguasai teknologi.

Sejak diterapkannya Stay at Home dan Work From Home (WFH)  para guru terus mengupgrade kompetensi –kompetensinya, termasuk kemampuan berliterasi melalui berbagai portale learning yang bertebaran di media sosial.  Para guru yakin bahwa literasi bukanlah bakat. Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih. Maka memanfaatkan peluang WFH guru harus mengenal dan mempelajari 6 literasi dasar (Literasi baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, dan budaya dan kewarganegaraan) dan tampil sebagai pembelajar sejati.  

Pandemi Covid-19 akan segera berlalu dan Indonesia akan memasuki zaman New Normal.  Di ujung pandemi ini guru terus memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik sembari terus mengupgrade kompetensi utamanya dan kompetensi literasi sesuai tuntutan abad 21.  Sehingga, memasuki Tahun Ajaran Baru, guru di Indonesia akan eksis di hadapan peserta didik baru dengan kompilasi kompetensi selama pandemi Covid-19. (*)

Nubarnulisbareng/ utyagusriati