Dusta Jika Kau Katakan Cinta

Dusta Jika Kau Katakan Cinta

Adalah dusta besar jika kita mengatakan mencintai profesi yang ditekuni sekarang adalah passion kita sementara saat menjalaninya, tak sedikit pun ada rasa bahagia yang menyertainya. Selalu berkeluh kesah, selalu mencari-cari solusi atas sumber kegelisahan dan kemandekan kita. Diri susah berkembang. Karir stagnan di tempat. All are lie.

Jika kita mencintai seorang kekasih, rasa apakah yang lebih banyak hadir? Lebih banyak rasa bahagia ataukah rasa sengsara? Lebih banyak kerinduankah atau ingin menjauhinya selama-lamanya? Ingin berbuat yang berbeda setiap harinya untuk membahagiakan dia, ataukah sibuk mempertanyakan mengapa dia tak memahami ataupun berupaya membahagiakan kita?

Kalau kita menyatakan cinta pada seseorang, pasti akan disibukkan dengan memikirkan bagaimana agar si dia terawat dengan baik lewat cinta yang kita tunjukkan, bukan? Seperti rajin menanyakan apakah si doi sudah makan atau belum? Sedang sehat atau sakit? Sedang senangkah hatinya atau mendung kelabu seperti kondisi kota yang diguyur hujan akhir-akhir ini?

Bila mendengar si dia mengeluh sedang bersusah hati, kita pasti akan bergegas untuk menghampirinya. Menghibur dan menemaninya agar tak kesepian. Membuatnya tersenyum dan tertawa bahagia lagi dengan apapun yang kita bisa. Sebab cinta terkadang bisa menghadirkan rasa bahagia dari hal-hal yang paling sederhana sekalipun. Betul?

Jadi, jika kita mengaku mencintai seseorang tapi tak pernah merasa bahagia saat menjalani hari-hari bersamanya maka tanyalah hati kecil kita. Benarkah itu cinta yang tulus ataukah hanya rasa kagum sesaat saja? Benarkah cinta yang saling mendamba ataukah hanya bertepuk sebelah tangan saja?

Kala tak jua merasakan bahagia, maka lepaskanlah dia. Berhenti mencintai sesuatu yang akan berakhir sia-sia. Sebaiknya kejarlah cinta lain yang mungkin lebih bisa membuat kita bahagia. Bahagia dengan apapun caranya.

Begitu pula dengan profesi. Salah satunya adalah profesi menulis. Bila kita mengaku mencintai profesi ini, maka mencintalah dengan tulus tanpa syarat.

Artinya? Mencintai semua yang berkaitan dengan profesi apapun bentuknya. Apakah berupa kesenangan yang dirasakan saat menjalaninya ataukah berbagai kendala yang bisa datang menghadang tiba-tiba dan sewaktu-waktu?

Jangan hanya ingin merasakan kesenangan saja dan enggan saat menemui kendala. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang akan menyenangkan terus menerus atau sebaliknya. Itu semua tergantung dari sudut pandang ataupun perspektif kita saat menyikapi halangan dan rintangan yang datang.

Maka adalah dusta jika kita mencintai profesi sebagai penulis tetapi tak pernah bahagia menjalaninya. Adalah dusta jika kita (mengaku) memiliki passion di bidang literasi tetapi selalu merasa buntu dan sulit menemukan ide untuk calon tulisan kita. Adalah dusta jika menulis hanya membuat kita tertekan, merasa dikejar-kejar sesuatu yang tak kasat mata dan akhirnya menyelesaikan dengan terpaksa. Bukan datang dari hati dan kejujuran. Tanpa ada rasa ikhlas sedikit pun.

Omong kosong jika kita menginginkan eksis di dunia literasi tapi tanpa mau berproses dan berlatih setiap harinya. Sungguh sangat konyol jika kita (hanya) mendeklarasikan diri sebagai pejuang literasi lalu seketika menuntut otak harus penuh dengan ide-ide brilian tetapi tak pernah merangsangnya untuk terus produktif.

Sekali lagi, tiada yang instan. Untuk semua profesi, jika ingin sampai pada level “mahir”, maka harus mau menitinya dari level terendah dulu yaitu “pemula”. Takkan ada seorang pun yang begitu memasuki sebuah profesi yang baru dan asing baginya tetapi langsung berada di level tertinggi atau mahir. Jika iya, maka dia bukan manusia melainkan Tuhan.

Ikuti saja setiap prosesnya, di setiap profesi yang kita jalani. Meniti dari level terendah, berjenjang, terus naik dan naik. Sebab sudah hukum dari-Nya seperti itu. Sunatullah. Bukankah tak ada bayi yang baru lahir langsung bisa bicara, berjalan, beraktivitas seperti orang yang sudah dewasa? Mereka, kita, semua perlu melewati tahap-tahap tersebut. Dengan doa, semangat, ikhtiar, dan tawakal.

Akankah kita buktikan bahwa cinta yang ada adalah sebenar cinta? Ataukah kekaguman yang terbungkus euforia sesaat karena mengikuti tren dari orang-orang yang ada di sekitar kita? Just be honest to our selves.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah