Durian Tiga Rasa


“Mak, tebak aku juara berapa”? Neni langsung melapor ke ibunya sebaik turun dari motor boncengan ayahnya.
“Itu pakaian kotor semua”? Mata ibunya terbelalak melihat dua tas besar bawaan anaknya.
“Ih, mamak. Dikasih tebakan malah balek nanya”!
“Mamak dah tau. Rangking 1, kan? Nggak heranlah mamak. Dari SD juga gitu. Kalau nggak juara, baru mamak heran! Mana rapotmu?”

Neni membuka tas yang paling besar. Mengambil kertas yang berbalut plastik dan meyerahkan ke ibunya. Dia langsung berlari ke dapur. Memeriksa isi kulkas dan matanya langsung terfokus ke dalam mangkok yang penuh dengan daging durian. Nafsu makannya yang selama di pemondokan tertahan, mendadak mau meledak. Ia sangat girang.

“Waah … mantap ni, Mak. Enaklah tiap hari makan durian.” Dicomotnya daging durian itu. Sebentar kemudian sudah habis setengahnya.

“Enak?” tanya ibunya.
“Bangeeet…. Tapi koq ada yang agak asam?”
Keningnya berkerut. “Yang busuk disimpan juga, ya, Mak?” Ia mau muntah.

“Makanya. Kalau lihat apa-apa itu, nanya dulu! Itu kan memang sengaja mau diasamkan. Mau buat tempuyok!” Ibunya tertawa melihat ulah anaknya. “Yang bagus, itu di bawah meja! Awas nanti ketusuk juga! Jangan dimakan sama durinya!” Ibunya meledek.

Sore harinya mereka membuat agar-agar dengan campuran bahan durian. Neni mengamati proses pembuatan itu sambil membantu memarut kelapa dan memeras santannya.

“Nah, selesai. Simpanlah di kulkas supaya rasa dan teksturnya lebih padat. Nanti malam baru kita makan sambil nonton.” Ibunya memberi perintah.

“Enak, nih. Setiap hari makan lezat dan bergizi.” Neni menimpali sambil berharap puding itu cepat dingin.

“Eits, tunggu dulu. Tugasmu adalah kamu harus membuat satu tulisan setiap hari, selama libur. Temanya sesuaikan dengan apa yang kamu kerjakan!” Perintah ibunya.

“Bah! Mamak ini, ini kan lagi libur. Masak libur pun disuruh belajar!” Neni protes.

“Jadi? Nggak setuju, nih? Bukannya kita udah sepakat, belajar di mana saja dan kapan …?” Ibunya menggantung ucapannya. Memastikan anaknya.

“Iya, iya. Siap kanjeng Mami. Aakan kubuat. Judulnya adalah Durian Tiga Rasa! Satu halaman cukup, kan? Neni mengajak kompromi.

“Kok, judulnya itu?” ibunya mendelik.
“Iya, sesuai dengan yang kurasakan hari ini; senang, asem dan dongkol! Hahahaha….”

Neni melangkah gontai menuju laptop di meja kerja ibunya. Namun wajahnya kembali sumringah. Ia membuka google, mengetik keyword “Teks Prosedur Membuat Agar-agar Durian.”
Tak sampai sepuluh menit, tulisannya selesai.

“Lapor, tulisan untuk hari ini telah selesai”
Ibunya hanya geleng-geleng kepala.

Repost dari blog: https://maysilla84.blogspot.com/2019/12/durian-tiga-rasa-mak-tebak-aku-juara.html