Drama Pagi

Pagi-pagi seperti biasa tugas pertama mengantarkan anak ke sekolah. Waktu menunjukkan pukul 06.15. Jalan masih lengang, tak banyak kendaraan hilir mudik. Ku laju perlahan motorku menuju kantorku. Di pertigaan tiba-tiba ada motor dari sebelah kiri melaju dengan santainya, kalau rem nya gak pakem pasti nya motor kami sudah beradu.

Ku tekan klakson lama. Untuk beberapa saat motor kami berhadap-hadapan.

“Bu, kalau jalan liat-liat dong!”

Aku bergeming.

“Bapa, tolong ya. ini jalur saya. Bapa yang salah, masuk di jalur saya” tegas ku.

Ku lihat Bapa berhenti memarkirkan motornya. Aku pun turun dan menghampirinya.

Ada sedikit rasa takut, mengingat perawakan Bapa itu yang kekar. Namun ku beranikan diri.

“Kalau kamu bukan ibu-ibu, sudah saya …”

“Bapa mau apa? Silakan saya tidak takut. Kalau perlu kita lapor polisi!”

“Maaf ini ada apa ya? kok rebut-ribut?”

Sapa seorang polisi yang biasa berjaga di pertigaan itu, menghampiri.

“Begini, Pak,” jelasku sambil merapikan posisi berdiri.

“Saya mau belok ke arah kiri. Saya ambil jalur kiri dong. Nah, tiba-tiba Bapa ini datang dari arah kiri saya, langsung masuk ke jalur ke jalur kanan yang artinya masuk ke jalur kiri. Nah, yang salah siapa?”

“Ibu benar, Bapa seharusnya ambil jalur kiri Bapa, bukan jalur kanan!”

See!, aku yang benar kan?”

“Maaf, Pak Polisi. Memang saya yang salah. Tapi ibu ini nyolot, ya saya langsung terpancing. Baiknya ibu ini menggeser saja ke kanan sedikit. Karena saya sudah terlanjur masuk di arah kanan saya!”

“Oh, jadi saya yang salah. Maaf ya Pa, mengapa saya bergeming. Ini aturan. Harus di tegakkan. Aturan di ikuti bukan karena ada atau tidak ada Pak Polisi yang melihat. Tapi kita harus menerapkannya dimanapun berada”

“Tapi, Ibu kan orang berpendidikan. Mestinya lebih baik mengalah dan memaafkan, wong cuma bergeser sedikit, untuk menghindari tabrakan kan tidak ada salahnya”

“Maaf ya, Pak. Justru karena saya orang berpendidikan, saya harus menerapkan pendidikan yang saya miliki. Begitupun ketika di jalan. Saya berhenti, untuk memberi tahu kalau yang Bapa lakukan salah. Kalau bukan saya lalu …”

Teeettt, teeeet, teeeet!

Suara klakson membuyarkan lamunan ku. “Bu, kalau belok liat-liat dong!” “Ih, supir angkot nih bikin rusuh!!!” sungut ku. Sesaat kemudian baru aku sadar, lampu righting motorku nyala sebelah kanan, dan aku malah belok ke kiri. Ups!!!