Doa untukmu

Doa Untukmu

Saat suaramu melengking tinggi, aku terdiam ada rasa perih dibilik hati, braakkkk…. kau banting keras pintu mengagetkanku, mengapa kau lakukan ini nak, aku ibumu tak tau harus mengajarkan apalagi padamu, teringat saat terbelit sakit hampir meregang ajal melahirkanmu, bersimbah darah dan keringat agar aku dapat menatap senyum kecilmu.

Aku ibumu…separuh darah mengalir di tubuhmu, mengajarimu berjalan saat kau tertatih, menyuapkan gizi kemulut mungilmu tanpa kau pinta lapar, tanpa kau ucap makan, walau tak lagi ada sesuap nasi untukku, meski tak adalagi waktu sekedar meluruskan punggungku… Aku tak mau berbagi denganmu karena bagiku semua adalah untukmu, anakku.

Rasa lelah dan kecewa kini terbalas dengan bentakkanmu, aku terdiam dan menyingkir perlahan, menangis pedih menahan mulut yang hampir bergetar…
Jangan, jangan sampai terucap dari mulut seorang jiwa pembawa telapak syurga, jangan sampai aku ucap kata dari rasa amarah.

Kusimpan segala rasa perih,
Jika bagimu aku hanyalah portal ataukah pengganggu kebebasanmu, kulepaskan kau dari bayang bayangku nikmatilah hidupmu, doaku takkan pernah terlepas dari para penghuni rahimku
Kehadiranmu menjadi cerita manisku, dan suatu saat kau akan jauhi aku dengan caramu.

Aku ibumu, takkan pernah berpaling dari takdir walau berpuluh kali kau kecewakanku, hingga ragaku semakin lemah menua membalut beberapa lama lagi usia,

kemaafanku terus berlanjut walau kau tampar aku atas aqidahmu yang salah. Dan itu adalah hisab untukku.

Nak, senyummu adalah senyumku dan dukamu adalah lukamu, tapi duka ibumu belum tentu kau rasakan itu, apapun kau itu semoga menjadi Uwais Al Qorny yang kusebut dalam doaku… Bahagialah kau nak, agar aku tetap bisa melihat senyummu…

Dibalut tubuh renta ini, aku selalu mendoakanmu, dalam tangis dan menengadahkan tangan disela sujud panjang diantara sepertiga malamku

LellyHapsari/RumahMediaGrup