Distress Emphaty di Masa Pandemi

Sumber foto: Google edit by Meitu

Distress Emphaty adalah saat kita bisa merasakan kesedihan orang lain karena kita sendiri pernah dalam kondisi tersebut. Aku mulai mengenal distress emphaty pada saat belajar Mindfulness Parenting dengan mentor Supriyatno. Ternyata pengaruhnya sangat besar dalam usaha kita untuk bisa move on.

Suatu kewajaran dan manusiawi bila kita ikut merasakan duka orang lain, tetapi bila berlebihan menjadi bahaya buat mental dan tubuh kita sendiri. Suatu tanda kita belum berdamai dengan diri sendiri secara total. Aku sendiri berjuang keras untuk bisa menulis dengan bersliweran berita duka.

Walaupun aku sudah berproses damai dengan diri sendiri, masih saja ada yang tertinggal akar kepahitan masa kecil. Keuntungan kita kalau mau berdamai dengan diri sendiri adalah bisa berdamai dengan orang lain dan keadaan yang tak menyenangkan.

Kondisi pandemi seperti ini yang terbaik dilakukan adalah Meditasi. Cara terampuh untuk belajar menerima sesuatu yang tak sesuai keinginan dan tak menyenangkan. Kita sangat perlu menanamkan dalam pikiran hal-hal yang positif.

Puji Tuhan dalam kondisi distress emphaty walaupun kesulitan menulis, aku masih bisa mengajar meditasi. Setiap hari mendengarkan curahan hati dari grup baik yang sakit autoimun maupun teman terkena covid-19. Bahkan ada teman yang terpapar covid-19 bersama seluruh keluarganya. Bagaimana rasa hati ini mengetahui hal yang memprihatinkan ini?

Aku bersyukur sudah menyadari kelemahanku, sehingga aku hanya bisa berdoa dan meditasi. Selain untuk recharging energy buat diri sendiri juga mengalirkan energi positif untuk mereka.

Cara mengatasi saat distress emphaty:

1. Mengasuh Inner Child: self talk dengan masa kecil terluka. Ini sangat penting, karena kendala terbesar dalam hidup ini adalah luka batin yang masih tersimpan.

2. Acceptance: menerima keadaan bahwa kita sedang distress emphaty

Dengan mendengarkan gejolak isi hati sendiri, meringankan jiwa dan tubuh. Aku terus berjiwa besar menerima gejolak perasaanku, sehingga bisa menyelesaikan tulisan ini. Cukup lama aku merasakan Mental Block selama 14 hari, benar-benar tak bisa mengungkapkan ide yang sudah bermunculan.

Semoga apa yang kuceritakan ini bermanfaat buat semua pembaca yang sedang mengalami distress emphaty. Selamat berjuang dalam bertahan di masa pandemi ini, tetap tenang. Tuhan selalu menyertai kita semua.

The Power of Thinkingđź’–

The Power of Forgivenessđź’–

Wenny Kartika Sari