#dirumahaja

Kenapa harus #dirumahaja??

Sebelum bahas pentingnya dan asiknya #dirumahaja, nih baca dulu yang jadi salah satu kegalauan di bumi hari ini.

Ramai pembicaraan tentang virus corona. Berbagai sudut bumi ini gonjang ganjing karena makhluk Allah yang tak kasat mata. Bahkan yang terkena virus pun tak nampak sakit kelihatannya. Tapi setelah beberapa hari atau minggu kemudian, positif terjangkit oleh si corona. Takut, cemas, panik…

Berbagai macam cara untuk menangkalnya. Harusnya jadi solusi tapi belakangan justru jadi masalah baru. Masker, diborong habis. Padahal yang paling butuh masker adalah yang sedang sakit terkhusus batuk dan pilek agar yang sehat tak tertular.

Cairan pencuci tangan. Diborong beramai-ramai. Sampai menjadi barang langka.

Semua di beli oleh yang bisa membeli banyak. Lupa kalau punya saudara yang lebih membutuhkannya. Ramai-ramai jadi penimbun tanpa ampun.

Wahai para penimbun, tahukah kau bahwa tindakanmu menjadikan harga barang melonjak karena kelangkaan yang kau buat?

Padahal sederhana aja. Bukan, ini bukan bentuk kesombongan. Bukankan penimbun lebih sombong, mentang-mentang bisa memborong, tak dipikirkannya manusia lain yang sekarang lebih butuh tapi, yang dibutuhkannya malah kosong.

Kembali lagi, padahal sederhana saja. Sudah ada pernyataan untuk #dirumahaja. Hindari bertemu dan berkumpul di keramaian. Menjaga jarak aman. Dan, yang lagi-lagi dilupakan adalah PHBS. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Seharusnya sebelum corona datang menyapa, kesadaran PHBS ini sudah merasuk dalam jiwa. Namun, nyatanya masih minim orang yang mau “repot” melakukannya.

Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Paling ampuh membunuh kuman termasuk virus jahat sekelas corona. Sebelum dan sesudah makan cuci tangan. Setelah dari kamar mandi cuci tangan. Ditambah dengan kasus ini maka tambahlah intensitas mencuci tangan. Salah satunya setelah memegang benda-benda di tempat umum.

#dirumahaja membantu untuk terhindar dari kesempatan si corona “berkembang biak”.

Kabar baiknya program baru #dirumahaja ini membuat para keluarga yang sibuk tak kenal pagi dan malam jadi bisa berkumpul dan bersenda gurau bersama.

#dirumahaja membantu untuk mengurangi penimbunan masker dan cairan pencuci tangan.

Kabar “buruknya” #dirumahaja membuat ibu-ibu jadi kewalahan menghadapi profesi baru sebagai gurunya si anak-anak yang mendapat tugas belajar di rumah.

Tapi apa salahnya? Toh sudah kewajibannya. Setidaknya orang tua jadi tau bagaimana sulitnya mengajar anak-anak itu.

#dirumahaja jangan bandel main-main keluar tanpa urusan yang teramat penting apalagi sampai memaksakan mudik karena momen ini.

#dirumahaja jadi bentuk solidaritas dan persatuan bangsa saat ini. Besok-besok kalau si corona sudah lelah dan roda kehidupan kembali seperti semula maka dengan sendirinya keguyuban dari budaya Indonesia ini kembali lagi.

Sabar, tetap tenang, berdoa, dan berusaha dengan #dirumahaja