Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung

Setiap orang memiliki selera makan yang berbeda, ada yang sukanya pedas, asem, manis bahkan asin, ini hanya contoh tentang rasa. Dan tidak jarang banyak yang susah untuk berdamai sejenak dengan selera makan ini.

Ada yang kalau mau makan bakso nanya dulu “sambelnya masih ada ga mas?… ” “Kalau habis saya ga jadi beli nih” Hehehe… ini mah saya, dan ini juga yang menyebabkan banyak jemaah haji Indonesia sakit karena soal makanan, ga selera sama masakannya, sehingga daya tahan tubuhnya menurun.

Diantara kita ada yang berusaha untuk mengantisipasinya dengan membawa menu makanan dari rumah, sesuai dengan apa yang disukai. Dan inipun terjadi pada kami ketika diberikan kesempatan oleh Allah untuk bisa beranjang sana ke negeri “Sakura” Jepang.

Sebelum berangkat kami sudah berbagi sekira apa yang di butuhkan untuk perbekalan kami selama disana khusus untuk makanan, padahal sudah di kasih tau kalau disana banyak makanan halal yang sesuai dengan lidah orang Indonesia. Tetap saja kami masih membawanya. Untuk kelangsungan hidup hahaha….

Mie instan, cabe bubuk, sambel botol, ikan teri goreng campur kacang tanah, saos dan satu lagi rendang. Ini adalah amunisi perbekalan kami yang akan bawa sebagai penyokong kebugaran kami selama di jepang.

Amunisi ini terus kami bawa di setiap kami pergi dan ketika waktu tiba, maka amunisi kami keluarkan, setelah kami makan beberapa kali, guide yang menemani kami setelah makan beliau mendatangi dan melihat meja makan kami dilengkapi dengan amunisi yang kami bawa dari Indonesia, sambil tersenyum dan tertawa “wah… Lengkap nih bekalnya” selorohnya.

Saat makan iseng aja sebenarnya untuk bertanya bagaimana kebiasaan orang jepang makan, jadi menurut Mr.David, orang Jepang sangat sedih ketika makananya tidak dihargai, apalagi ketika ada makanan yang lain selain apa yang mereka masak diatas meja. Saat itu kami saling bertatapan satu dengan lain teman. Perlahan segera kami turunkan dan simpan semua amunisi yang ada diatas meja.

Satu lagi yang membuat mereka marah, apabila saat makan sumpit yang kita gunakan pada saat makan, kita tusukkan pada makanan yang sedang kita makan. Itu penghinaan karena melakukan hal ini menyatakan bahwa makanannya tidak enak dan tidak layak dimakan.

Untungnya untuk yang tusuk menusuk makanan tidak kami lakukan. Setelah saat itu, ketika kita makan amunisi tetap kami bawa, tetapi tidak kami letakkan di atas meja, cukup kami keluarkan dibawah meja makan, setelah ambil langsung disimpan kembali.

Sudah semestinyalah kita menghargai setiap apa yang menjadi tradisi di negeri orang, karena kita tamu maka hormati dan tunaikan kebiasaan atau adat istiadat yang ada, pelajari terlebih dahulu, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilkukan. Dimana Bumi Dipijak, disitu langit di junjung.

Nubarnulisbareng/Nurfahmi

Sumber gambar : Foto Pribadi (Foto diambil hanya sebagai contoh saja)