Diabetes tipe 2

Awal bulan Mei, saya kontrol lagi. Kali ini cek darahnya untuk gula puasa, gula dua jam setelah makan dan trigliserida. Alhamdulillah saat diperiksa saya sedang tidak puasa, jadi bisa makan untuk periksa gula dua jam setelah makan.

Diantar oleh suami, pukul enam pagi, kita sudah sampai di laboratorium swasta langganan saya. Tidak berapa lama, saya sudah diambil darah. Disarankan langsung makan dan setelah makan, puasa lagi selama dua jam. Lima menit sebelum diambil darah untuk kedua kalinya, saya diminta sudah ada di lab.

Sampai di rumah, makan yang ada di meja saja. Nasi dan telur ceplok. Setelah minum, saya puasa lagi. Setengah jam sebelumnya saya pesan taksi online karena suami tidak bisa antar. Ternyata jalanan macet. Saya deg-degan, apa bisa sampai tepat waktu di lab atau tidak. Alhamdulillah ternyata pas banget sampai lab, tepat waktu. Langsung diambil darah. Hasilnya dikirim oleh lab ke tempat praktik dokter.

Sore harinya, kita sudah antri di internist langganan saya. Pasiennya banyak. Mayoritas orangtua yang sudah sepuh dan renta. Bahkan ada yang datang memakai kursi roda. Daftarnya sekitar pukul 13. Dokternya praktek pukul 16-18. Karena dekat dengan rumah, setelah daftar biasanya pulang dulu. Lalu datang lagi pukul 16. Yang sudah hadir, dipanggil namanya satu-persatu oleh perawat, untuk diukur tekanan darahnya. Ada juga yang diukur gula sewaktu. Setelah diukur tekanan darah, kita nunggu dipanggil, masuk ke ruang periksa.

Ada kejadian lucu. Pas saya sedang nunggu dipanggil, karena tempat duduk di ruang tunggu penuh, saya berdiri. Pas ada kursi yang kosong, saya langsung duduki saja. Sedang anteng buka gawai, pintu periksa dokter terbuka, pasien ke luar, dan seorang ibu yang duduk di dekat pintu tersebut, reflek masuk ke dalam ruang periksa. Otomatis pasien lain berseru, “Bu, jangan dulu masuk! Namanya belum dipanggil!” Ada tiga orang yang berseru seperti itu. Sang ibu, keukeuh, giliran dia masuk. Lalu dilerai oleh perawat. Perawat itu menjelaskan bahwa prosedur masuk ruang periksa, dipanggil namanya dulu. Kalau belum dipanggil ya silakan tunggu dulu. “Sekarang giliran Bu Wawang. Bu Wawang ada?” Tanya sang perawat.

“Ada, Bu.” Sahut saya sambil berdiri dari tempat duduk lalu berjalan menuju ruang periksa. Akhirnya ibu yang maksa masuk, ke luar ruangan periksa dan duduk di ruang tunggu.

Dokter melihat hasil lab saya. Lalu tersenyum seraya berujar, “Ibu mengidap diabetes ya. Ini indikatornya. Gula puasa dan gula dua jam setelah puasa, di atas normal. Diabetes tipe 2. Biasanya hormon insulin tidak mencukupi kebutuhan tubuh ibu. Saya bantu dengan obat ya. Namanya metformin.” Serasa disamber geledek, saya diam. Masih mencerna ucapan dokter. Berarti hormon insulin saya ada tapi kurang ya. Apa karena efek gegar otak yang membuat kacaunya hormon insulin saya? Setelah sebelumnya, hormon estrogen dan progesteron saya juga tidak seimbang, yang mengakibatkan saya mengalami pendarahan berulang setiap bulan. Pertanyaan ini berputar terus di kepala. Sedih sih. Tapi mau gimana lagi. Yang penting saat ini saya bisa menerima keadaan saya. Keadaan sakit diabetes.