Dia!

Ada satu kata yang kurangkai dalam hati
Menghapus sinisme menjadi simpati
“Kasihan”

Ku bunuh perlahan rasa dendam
Ku caci sendiri mengapa mengikuti langkah setan!

Ya, dulu dia pernah membuatku nyaris terlempar di antara dua dermaga
Nasibku timbul tenggelam di atas permukaan hempasan gelombang

Tanganku menggapai
Mencapai apa saja agar tak tenggelam
Tapi senyum itu sinis ditebarkan
Sambil berucap “Selamat jalan di dasar lubang kematian!”

Gelap pekat malam
Dalam rongga dada napas terasa sesak
Burung-burung pemakan bangkai
Berputar di atas kepala
Sial … siap menunggu santapan makan malam
Sabar menunggu kematian seorang kelana

Sinar rembulan kian redup
Seolah menutupi wajahnya
Hatinya menangis melihat derita
Lengkingan lolong yang semakin parau lalu menghilang

Raga terasa ringan
Dingin dan sangat basah
Kutatap langit dengan nanar
Apakah malaikat maut telah menyambut?

Tetapi….
Kosong, hanya ada seraut wajah indah
Yang membopongku naik di geladak kapal tanpa nahkoda
Aku hidup
Menyematkan cinta
Memupus rasa durjana

-Lelly Hapsari