Di Malam Jum’at yang Gelap, Kutunggu Hadirmu

Di Malam Jum’at yang Gelap, Kutunggu Hadirmu

Sore itu, perutku terasa mulas. Semakin lama semakin sering rasa mulas itu datang. Aku segera menelepon suami agar segera pulang, walaupun kutahu saat itu suami sedang piket kantor dan baru bisa pulang besok pagi. Namun suamiku harus segera pulang karena kondisi mendesak.

Hujan turun dengan derasnya. Suara gludug begitu menggelegar. Aku di rumah bersama dua anakku. Usia mereka 8 dan 7 tahun, terpaut satu tahun. Sambil meringis menahan sakit di perut, aku menantikan kedatangan suami. Tak henti berdo’a semoga hujan segera reda.

Menjelang magrib, suamiku datang. Hujan pun sudah reda. Tanpa menunggu lama, kami langsung berangkat naik motor berempat. Tujuan kami adalah rumah nenek. Berharap anak-anakku mau kutinggal bersama nenek mereka.

Jalanan yang rusak dan berlubang membuat banyak genangan air. Tubuhku berguncang setiap kali ban motor harus melewati lubang, dan itu membuat perutku semakin sakit karena mulas yang hebat.

“Yah, kita ngga usah ke rumah nenek, langsung aja ke rumah bu Sri,” ucapku setengah berteriak karena menahan mulas. Suamiku tak jadi membelokkan motor ke kiri, tetap mengambil jalan lurus. Kira-kira 50 meter kemudian motor berbelok ke kanan.

Sesampainya di rumah bu Sri, aku segera diperiksa dan diminta untuk masuk ke ruang bersalin. Bu Sri adalah bidan di desaku. Beliau dibantu seorang asistennya mulai mempersiapkan peralatan bersalin.Β  Suamiku menunggu di luar menemani anak-anak.

Waktu isya telah berlalu. Tiba-tiba, semua gelap! Bidan memintaku untuk tidak mengejan dulu. Asistennya mencari handphone dan menyalakan lampu senternya.Β  Suamiku panik, bertanya apakah ada lampu emergency yang bisa digunakan.

“Oh iya, ada lampu emergency di dalam,” bu bidan teringat dengan lampu emergency, kemudian berlalu ke dalam rumah untuk mengambilnya.

Proses persalinanku berlangsung di saat listrik padam.Β  Walaupun begitu, semua berjalan lancar. Bayi laki-laki mungil itu lahir dengan tangisan yang keras. Lalu dengan sigap asisten bidan memandikannya. Sementara bidan menyelesaikan persalinan. Aku harus mendapatkan beberapa jahitan pada jalan lahir.

Setelah semua beres, dan bayi mungil pun telah nyaman dalam bedongan, lampu ruangan kembali menyala!

Masya Allah, aku bersyukur semua bisa dilalui dengan baik walaupun mengalami insiden mati lampu. Buah hatiku lahir di hari Kamis, 8 April 2010, jam 19.30. Semoga menjadi anak yang saleh, ya, nak.

5 comments