Demi Baju Lebaran

jihanhusna.wordpress.com

Lebaran tahun ini sungguh luar biasa dan di luar kebiasaan. Bagaimana tidak, lebaran biasanya dipenuhi dengan kebahagiaan, hati senang karena berkumpul dengan keluarga besar, bersilaturahmi ke sanak saudara, ke tetangga, atau open house di rumah bersama sanak famili. Orang-orang dewasa membagi rezeki dalam bentuk angpao dan yang mudah mengucapkan terima kasih dengan peluk cium. Hmm sungguh kebahagiaan tak terkira.

Tahun ini serba terbatas. Tarawih dan kegiatan lainnya dibatasi, di rumah saja. Menu buka puasa dan menu sahur dibatasi, baju lebaran buat keluarga juga dibatasi. Terlebih pusat pertokoan banyak yang tutup karena PSBB.

Keluarga di kampung pun kena dampaknya. Biasanya seluruh anggota keluarga dapat baju lebaran dan angpao buat membeli lauk pauk di hari Idul Fitri. Tahun ini tidak ada baju lebaran. angpao pun dikirim secukupnya. Untung anggota keluarga di kampung mengerti karena mereka juga merasakan hal yang sama.

Terus terang bukan karena pelit. Tetapi tahun ini betul-betul tahun mengencangkan ikat pinggang. Pemasukan sedikit berkurang, sementara pengeluaran tidak ada yang berubah. Biaya sekolah anak-anak tetap harus dibayar. Belanja juga tetap berjalan.

Biasanya anak-anak memiliki 2-3 pasang baju lebaran, plus seragam sholat Idul Fitri. Tahun ini hanya satu stel. Aku sendiri cukup dengan baju yang kubeli beberapa bulan yang lalu. Lumayanlah baru sekali pakai dan masih bersih dan layak untuk dipakai salat Ied.

Tetangga aku pun tidak jauh berbeda nasibnya. Mereka rata-rata pedagang yang berjualan di pasar dan beberapa pegawai kantoran baik di perusahaan pemerintah maupun swasta. Mereka mengeluh karena penghasilannya juga berkurang

Ada satu keluarga yang betul-betul prihatin hidupnya. Dia memiliki 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Suaminya di PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja karena dampak PSBB. Kadang kalau masak, sengaja aku lebihkan buat mereka.

Karena merasa kami perhatian, maka istrinya tidak sungkan meminta bantuan apa saja, termasuk dalam hal keuangan. Satu dua kali aku tidak ada masalah dan selalu meminjamkannya karena jumlahnya kecil. Cuman kali ini aku sedikit berat meminjamkannya. Karena aku pun sangat pas-pasan. Apalagi ke depan aku tidak tahu bagaimana perkembangan perekonomian keluargaku karena dampak Corona. Apakah secepatnya akan normal lagi atau akan ada perpanjangan lagi.

Tapi karena dia terus memelas, dengan alasan ingin membeli kebutuhan dapur dan zakat fitrah maka akupun mengiyakan. Dia berjanji secepatnya akan dikembalikan.

Uang yang kupinjamkannya itu sebenarnya untuk membeli baju koko untuk suamiku. Kulihat bajunya sudah layak untuk diganti. Memang sih, suamiku jarang mau dibelikan baju. Alasannya bajunya masih banyak dan masih bagus. Dan begitu aku menyampaikan tentang tetanggaku Bu Romlah yang mau punjam uang, suamiku langsung menyuruhku untuk meminjamkannya. Dia sangat mengerti dan lebih mengedepankan tetangga yang betul-betul membutuhkan dibanding beli baju lebaran untuknya. Aku sangat terharu dan bersyukur memiliki suami yang berhati baik. Suamiku hanya minta dibelikan kopiah/songkok.

Esok harinya aku mengantar suami ke pusat penjualan busana muslim. Pertokoan itu ternyata ramai. Orang-orang berdesakan untuk membeli baju lebaran. Sebenarnya yang membuat pengunjung berdesakan adalah karena pintu pertokoan itu ditutup sebelah dan orang harus menjaga jarak sehingga terkesan membludak. Antrian sangat panjang.

Alhamdulillah tempat kami berdiri tidak terlalu banyak. Pengunjung yang dimonopoli ibu-ibu lebih banyak ke baju anak. Hanya 4-5 orang saja yang antre di tempat kopiah. Aku hanya berdiri mematung di belakang suamiku yang asyik memilih kopiah. Dia mencoba nomor dan ukuran kopiahnya. Sesekali meminta pendapatku begitu dia mencoba kopiahnya.

Aku melihat ke sekeliling. Dan tanpa terasa mataku melihat sosok wanita yang sepertinya aku hafal. Walaupun dia membelakangi tetapi baju dan kerudungnya aku hafal betul karena sering dia pakai. Aku menepuk halus tangan suamiku.

“Ada apa, Mah” katanya.

“Coba Papah lihat ibu yang berdiri memakai baju pink bunga-bunga itu.” Bisikku sambil aku menunjuk ke sebelah kiri dengan telunjuk di depan mulutku. Aku berusaha memberi isyarat agar tidak terlihat oleh orang-Orang.

Walaupun jaraknya sekitar 4 meter dariku dan berada di kerumunan orang, tapi karena dia tinggi besar maka tetap terlihat oleh kami.

“Bukankah itu Ibu Romlah?” kata suamiku sambil memandangi orang yang aku tunjuk.

“Iya, pah. Itu Bu Romlah tetangga kita yang kemarin datang ke rumah pinjam duit.”

Dari suaranya kutahu, suamiku sepertinya tidak menyangka akan bertemu Ibu Romlah di sini.

“Saya jadi curiga, Pah. Uang yang kemarin dia pinjam buat makan, sebetulnya buat beli baju baru anaknya.” Sambungku dengan suara sangat pelan.

Tanpa sengaja dia berbalik dan melihat kami. Dia sangat terkejut. Barangkali dia juga sama, tidak menyangka akan bertemu kami di sini. Dia tersenyum, tapi lebih terlihat malu dan grogi. Sambil mengangguk, dia pun pergi dengan senyum yang dipaksakan. Dia berlalu dari hadapan kami.

Aku dan suami hanya terdiam seribu bahasa.

nubarnulisbareng/Utyagusriati