Deadliners atau Anti Deadliners?

Deadliners atau Anti Deadliners?

“[Tunggu aku, Mbak pije. Sebentar lagi tulisanku kelar!]”

Sebuah chat masuk ke chat list seorang pije antologi di suatu malam saat menjelang akhir deadline sebuah proyek nulis. Saat sang pije melihat ke arah jam, tertera angka 23.00 WIB. Wow! Sangat-sangat mepet!

Sebut saja Mawar, seseorang yang sedang berupaya merintis karir sebagai penulis. Dia mengawali dan menguji cobakan kemampuan menulis salah satunya dengan mengikuti proyek antologi alias nulis keroyokan ramai-ramai. Sayangnya dia memiliki satu habit atau kebiasaan buruk, yaitu senang mengumpulkan tugas di jam-jam mepet DL alias injury time.

Apakah boleh kita memiliki kebiasaan seperti itu? Apakah ada dampaknya untuk orang lain yang bekerja sama dengan kita? Apakah akan mempengaruhi citra profil kita sebagai penulis?

Jawabannya, kita sebaiknya tidak memiliki kebiasaan sebagai “deadliners” yang bisa berarti pejuang deadline, yaitu seseorang yang setor tugas ketika sudah menjelang habisnya atau saat-saat tersisa dari deadline sebuah pekerjaan. Bayangkan bila kita memiliki waktu tersisa hanya beberapa menit sementara proyek atau kerjaan yang harus diselesaikan tidak hanya satu tetapi beberapa? Apa nggak pusing nantinya?

Apakah hasil pekerjaan akan seoptimal pekerjaan yang dilakukan dengan tenang, penuh perhitungan, penuh ketelitian dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan terburu-buru, tanpa ketelitian, dan kematangan serta (biasanya) apa adanya? Sebab biasanya pekerjaan yang dikerjakan terburu-buru dengan kualitas apa adanya tidak akan mencapai hasil yang memuaskan. Tidak percaya? Silakan coba.

Dampak buruk yang paling sering dirasakan oleh orang lain yang satu proyek dengan kita yaitu kinerja yang buruk bisa menghambat keberlangsungan suatu proyek. Progress menjadi lebih lambat. Sang leader proyek harus menunggu sampai pekerjaan kita selesai, sementara orang lain sudah menyelesaikan tugasnya sejak jauh-jauh hari.

Belum lagi kalau hasil pekerjaan kita banyak kesalahan, mesti revisi di sana sini. Akan sangat membuang-buang waktu dan tenaga. Proyek berjalan lebih lambat. Goal dan target yang sudah ditetapkan bisa jadi melenceng jauh dari perkiraan atau jadwal yang sudah ditetapkan. Betul?

Dampak buruk terhadap citra kita sebagai seorang pekerja di satu bidang profesi tertentu akan tercoreng. Orang lain yang satu proyek otomatis akan menandai kita sebagai rekan kerja tidak profesional. Leader proyek, bisa jadi enggan untuk melibatkan kita kembali di proyek-proyek selanjutnya.

Karir kita bisa mandek di satu pintu. Mungkin pintu-pintu lain masih terbuka. Tetapi bila kita masih terus mempertahankan etos kerja yang buruk, bukan mustahil bila kelak pintu-pintu peluang lainnya akan segera menyusul untuk tertutup. Maka ketika pintu-pintu peluang bagi kita sudah tertutup, jangan dulu menyalahkan orang lain, tetapi introspeksilah.

Pekerja keras yang disiplin, profesional, dan tepat waktu selalu akan menjadi incaran kliennya atau orang-orang yang membutuhkan jasanya. Apalagi bila hasil kerjanya maksimal. Orang lain atau klien pastinya akan dengan senang hati bekerjasama dengan pejuang anti deadline, sebab ketepatan waktu menunjukkan bahwa seseorang itu memiliki manajemen waktu yang baik. Dedikasi tinggi menunjukkan tingkat keprofesionalan seseorang dalam bekerja.

Maka jika saat ini kita adalah salah satu deadliners maka bersiap-siaplah untuk menerima kemungkinan terburuk terdepak dari list orang-orang yang dinilai produktif dan baik secara manajerial. Terimalah bila suatu saat kita menjadi yang tersingkirkan sementara orang lain, para anti deadliners memiliki karir yang melesat jauh ke depan.

Sebab seleksi alam tetap akan berlaku. Di mana saja, kapan saja. Suka atau tidak. Bersiaplah untuk menjadi pecundang sementara orang lain menjadi pemenang.

So, are we gonna be deadliners or not? It’s up to our selves.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah