dan si kecil itu membunuh

Pada suatu pagi ruang kantorku heboh. Para staf yang rata-rata mama muda saling bicara. Entah bagaimana mereka bisa mengerti kalimat masing-masing.
Aku jadi kepo dong. Melangkah pelan keluar ruangan langsung disambut salah seorang dari mereka.

“Nah Bu, apa namanya orang yang membunuh, tapi tidak menyesal? Ada istilah psikologinya kan?” Vina mengarahkan pandangannya padaku.

“Psikopat, nama penyakitnya psikopat.” Salah seorang mahasiswa magang dari STAN menjawab pertanyaan Vina.

“Ah ya… psikopat, benar kan Bu?” Tanggap Vina lagi.

“Ini diskusi tentang apa? Kalian heboh banget” sahutku.

“Itu lho Bu, anak kecil yang jadi pembunuh bayi. Dan ternyata bu, dia juga pernah melempar kucing dari lantai dua rumahnya.” Riza menyahut antusias.”Apa anak sekecil itu memang bisa jadi pembunuh sadis gitu ya Bu? Kelainan mentalkah atau bagaimana?” Lanjutnya

Duuhhh aku kemana saja nyak?
Kok tidak tahu sama sekali tentang berita itu.

“Mana beritanya?” Tanyaku menghampiri meja Riza.
Layar komputernya masih menyisakan artikel tentang berita sang anak yang membunuh. Ditenggarai ada kelainan kepribadian pada diri sianak.

Hmmm…. aku jadi ingat kuliah berpuluh tahun yang lalu.
Anak-anak diistilahkan tabula rasa. Mereka semacam kertas putih dan polos, seperti apa nanti kertas tersebut, apakah akan penuh warna warni, coretan, lipatan ataupun lecek karena diremuk, semua tergantung lingkungannya.

Anak-anak adalah peniru yang baik. Malah pada beberapa kasus mereka cenderung manipulatif, sebab egonya yang belum berkembang.
Tapi apakah perilaku agresif yang mereka tunjukan bisa langsung dicap kelainan jiwa?
Rasanya terlalu prematur ya.

Agresivitas bisa dipacu banyak hal, sebab ia bersumber dari kerja otak yang luar biasa.
Bila dikaitkan dengan ini, agresivitas mungkin saja terjadi karena sang anak sering meilihat perilaku agresif tersebut. Memperhatikannya dan akhirnya mencontohnya.
Atau bisa jadi ia mengalami kerusakan otak, ada tumor di kepalanya yang bisa memicu agresivitas.
Atau mungkin juga karena keseringan ngegames yang aksinya kekerasan semua, atau nonton film yang ceritanya tentang kekerasan juga yang dibungkus dalam tayangan kartun, atau melihatnya di tv, youtube bahkan medsos yang menyajikan cuplikan gambar kadang tanpa sensor.

Banyak pemicunya, dan bukan serta merta karena kelainan mental saja.

Kembali ke awal tentang tabula rasa, maka anak menjadi tanggung jawab orang tuanya. Lingkungan seperti apa yang kita berikan. Adakah kasih sayang mengitari mereka. Adakah sehat lingkungan tersebut dari aksi dan reaksi kekerasan.
Pergaulan seperti apa yang kita berikan? Adakah mereka bertemu dengan teman-teman yang sehat sikapnya? Atau ternyata para perudung ada di tengah mereka.

Hmmmm…..banyak.banget kan hal yang harus direviu. Dan kita tidak bisa serta merta menjudgement sang pelaku seperti cerita di awal tadi.

Ayo…. selamatkan anak-anak kita. Kertas putih itu tanggung jawab kita. Akan berwarna indah seperti pelangi ,atau menjadi hitam tak berseri.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita

One comment