Dahulukan Yang Wajib

“Ummi, dahulukan yang wajib dong.” Kata Haziq saat melihatku menyiapkan ikan yang mau digoreng. Haziq baru saja pulang dari salat Dhuhur di masjid.

“Maaf, ya Haziq. Ini Ummi cuma nyiapin ikan saja. Nanti Mbak Ndari yang akan menggoreng. Ok deh Ummi berangkat salat dulu.” Jawabku sambil tersenyum dan beranjak ambil air wudhu.

Ada rasa haru, bangga dan tentunya bersyukur. Saat punya anak yang perhatian dan berani mengingatkan orang tuanya agar mendahulukan salat dari pada aktivitas lainnya. Apalagi posisi orang tua, harusnya mengajak dan memberi contoh. Tak hanya menyuruh anak bergegas salat saat adzan berkumandang, tapi juga segera ikut melakukannya.

Dahulukan yang wajib. Hal ini terkadang yang sering diabaikan oleh kebanyakan orang. Kadang lebih asyik melakukan hal yang mubah dan sunah. Misal, saat adzan salat berkumandang. Kita masih asyik kerja, memasak, nonton TV atau mengobrol. Alasannya, waktu salat masih panjang. Kegiatan sebentar lagi selesai, tanggung kalau ditinggalkan dan sebagainya.

Harusnya, kita bergegas melakukan Kewajiban. Jangan menunda-nunda hal yang wajib. Takutnya kewajiban belum terlaksana, sudah terkena kendala lainnya. Imam Suyuthi membawakan kaedah dalam masalah ini,

الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ

“Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”

Hal yang menarik juga dinyatakan oleh Ibnu Hajar,

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

“Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343)

Dalam kehidupan ini, sudahkah kita benar-benar mendahulukan yang wajib? Untuk bisa mendahulukan yang wajib, maka kita harus paham mana hal wajib, sunah dan mubah. Hal wajib bagi seorang muslim di antaranya : mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa dan beramar makruf nahi Munkar. Selain itu, masih ada lagi kewajiban belajar ilmu agama, kewajiban terhadap saudaranya yang  muslim dan sebagainya.

Dengan mendahulukan kewajiban sebagai seorang muslim, sejatinya kita benar-benar menjadi Islam. Dan Allah akan senantiasa mendatangkan pertolongan untuk kita di setiap saat.

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: [22] :40-41).

Semoga Allah berikan kekuatan kepada kita untuk benar-benar menjadi Muslim sejati, yang dalam perkara apapun selalu mengingat penilaian Allah. Senantiasa mendahulukan perkara yang wajib, dan meninggalkan hal-hal yang tak ada manfaat. Melakukan yang halal dan meninggalkan yang haram. Karena tidak akan pernah ada kebahagiaan dengan memilih jalan yang menyalahi aturan-Nya. Dengan selalu taat pada perintah Allah dan Radul-Nya, Insya Allah kebahagiaan akan menyapa hidup kita, tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Allahu a’lam.

Rumahmediagrup/ummutsaharo/ummuhanik/april/kategorisegar