Dadar Gulung Ani: SWOT dan Plan B

Dadar Gulung Ani: Analisa SWOT dan Plan B

Suatu hari Ani berencana membuat kue. Sebelum memutuskan akan mengeksekusi resep yang mana, terlebih dahulu ia melakukan analisis. Tidak main-main, ia menganalisis kekuatan yang dimilikinya (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan ancaman (threats).


Bagi Ani, kekuatannya dalam mengolah suatu makanan terletak pada kemampuannya membuat adonan, baik itu adonan donat, roti, atau pun pan cake. Sementara itu, kelemahannya terletak pada membentuk dan menghias makanan tersebut. Ia merasa peluangnya untuk membuat aneka makanan yang tak memerlukan garnish adalah yang terbaik.


Setelah menimbang dan membuat perencanaan, kini Ani memeriksa stok bahan baku di lemarinya. Sebelumnya, Ani hendak membuat makanan yang menggunakan ragi, seperti roti atau donat. Hal itu karena ia menemukan satu bungkus ragi yang akan expired beberapa hari lagi. Namun, ada ancaman lain ketika ia memeriksa lemari pendinginnya. Sebungkus kelapa parut tergeletak di sana.


Apa yang akan Ani lakukan? Bahan mana yang harus dipilih terlebih dahulu?


Kembali perempuan itu membuat sebuah pertimbangan. Ia memikirkan masa simpan kelapa parut dan masa simpan ragi yang sama-sama tidak lama lagi. Akan tetapi, masa simpan kelapa parut ternyata lebih pendek dibanding ragi. Maka, ia memutuskan untuk membuat makanan berbahan kelapa parut terlebih dahulu.


Kali ini rencananya sudah dirasa matang. Ani akan membuat kue dadar gulung berisi enten-enten – kelapa parut yang dimasak bersama gula merah, dan bahan lainnya.


Pada mulanya, perempuan cantik itu membuat adonan dadar. Lalu memanaskan teflon dan mulai membuat lembaran-lembaran dadar. Selagi menunggu dadar dingin, ia memasak enten-enten. Setelah semua siap, Ani mulai menggulung si kue.


Satu buah dadar diletakkan di dalam piring, lalu enten-enten diletakkan di atasnya. Kemudian, Ani melipat menyerupai lipatan amplop yang kecil dan agak panjang. Di tengah-tengah proses pelipatan kue, ternyata terjadi hal di luar perkiraan. Enten-enten telah habis, padahal masih banyak dadar tersisa.

Setelah memutar otak, Ani memutuskan untuk menjalankan plan B. Plan B adalah rencana cadangan yang dibuat untuk mengantisipasi jika rencana utama gagal.


Apakah plan B Ani?


Ani memberi isian dadar menggunakan bahan lain, yaitu mesis. Setelah semua dadar selesai digulung, kini ia memiliki dua jenis kue dadar gulung – dadar gulung isi enten-enten, dan isi mesis.

Dadar gulung enten-enten dan mesis (gambar: dok. pribadi)

Tak jarang kita menemukan kasus seperti Ani di dalam kehidupan. Rencana yang sudah dipikirkan matang-matang, harus kandas di tengah jalan karena sebuah hal yang tak diduga. Ya, manusia memang hanya bisa berencana dan Tuhan Yang Maha Menentukan. Namun, tidak ada salahnya kita membuat rencana sampingan.


Rencana cadangan atau plan B, memungkinkan kita tetap berjalan menuju target melalui jalan yang lain. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kita akan menemukan target baru yang akan memperkaya target awal. Seperti Ani yang akhirnya membuat dua jenis kue dadar gulung.

Akan tetapi, adanya rencana B tersebut jangan menjadi alasan untuk berleha-leha. Berpikiran bahwa segalanya mudah dan tidak sungguh-sungguh mewujudkan rencana utama. Plan B, hanya akan muncul jika ancaman (threats) datang, baik yang telah diperkirakan maupun yang tiba-tiba.

Selain analisa SWOT – seperti yang Ani lakukan di awal, dan plan B, ada satu hal lagi yang dapat menunjang keberhasilan kita. Doa merupakan bagian penting lainnya. Karena jika Tuhan tidak menghendaki, maka apa yang telah kita lakukan tidak akan berhasil. Jadi, iringilah semua usaha dengan doa.

Semoga kisah Ani dengan kue dadarnya ini bisa menginspirasi teman-teman semua.

Nubarnulisbareng/ Asri Susila Ningrum