Curhat Si Jempol

Aku tak tahu, sejak kapan dan kenapa disebut ibu jari. Padahal tidak pernah mengandung dan melahirkan jari yang lain. Mungkin karena bentuk tubuh yang gendut sendiri dibanding sesama jari lainnya. Namun, teman-temanku berkata kalau aku sebenarnya beruntung ditakdirkan menjadi ibu jari, alias jempol.

Ketika manusia memuji orang lain, tak jarang mereka akan mengacungkan jempolnya. Berbeda kalau yang diacungkan jari tengah. Di sebagian negara, itu adalah simbol dari makian kasar ‘fu.. you’. Curhat dari si JT, jari tengah kepadaku. Katanya, dia terkadang iri padaku.

Teman-temanku juga bilang sosokku yang paling tenar dibandingkan jari-jari lain. Terbukti dari beberapa jari, akulah yang sering muncul pada iklan majalah, televisi, bahkan billboard. Jempol dan bibir yang tersenyum manis merupakan perpaduan sempurna untuk menarik perhatian orang.

Namun, terkadang diriku malah merasa sial ditakdirkan menjadi jempol. Apalagi ibu jari di tangan kanan. Penyebab utamanya adalah aku menjadi bagian tubuh dari seorang manusia yang senang memainkan gawai.

Semenjak gawai jadul manusia berganti dengan gawai yang mempunyai tuts banyak, aku tak bisa beristirahat. Seringkali manusia tersenyum-senyum sendiri memencet-mencet keyboard gawai, sambil terdengar getar dengan tulisan PING! Sementara aku kelelahan untuk mengetik terus.

Kemudian, manusia berganti gawai menjadi layar sentuh, yang ia sebut android. Ini ternyata lebih parah. Manusia nyaris tak pernah memberiku waktu untuk beristirahat. Bahkan tubuhku disuruh menggeser sana sini terus. Aku hanya bisa istirahat saat gawainya habis baterai, atau manusia itu beristirahat.

Di sela-sela aktivitas sehari-hari, manusia yang menjadi tuanku ini, jadi makin getol dengan gawainya. Apalagi menurut penuturan Mata—temanku yang berada dekat si Hidung—tuanku sekarang bergabung dan aktif di banyak grup literasi. Pergaulannya di dunia maya pun bertambah luas. Hingga bertambah kesibukanku sekarang ini, mengetik di gawai.

Suatu hari, TTK, alias si Telunjuk Tangan Kanan, mengeluh pegal sekali kepadaku.

“Lah, yang paling sibuk mengetik di gawai kan aku. Kenapa kamu jadi ikut-ikutan mengeluh?” tanyaku sambil membuat gerakan mengulet.

“Tuan kita, menurut Mata, sekarang punya puluhan WAG, Pol. Kalau dia sedang sibuk, otomatis banyak chat di WAG yang terlewat. Nah saat  sudah agak senggang, barulah dia memanjat ratusan chat yang belum terbaca. Si Otak selalu memberi perintah melakukan hal itu, padaku. Itulah, Pol. Kenapa aku capek,” jelas TTK.

Aku hanya bisa manggut-manggut. Entahlah, kenapa Otak dengan berbagai pertimbangan, memutuskan tugas ‘scroll’ layar gawai diserahkan kepada TTK. Mungkin untuk bagi-bagi tugas antara kami? Atau agar tuanku merasa lebih nyaman juga.

Aku, Telunjuk, dan jari-jari tangan lain adalah pihak yang paling sering mengeluh. Akan tetapi, Otak sebagai Komandan tunggal kami, tidak pernah menghiraukan. Mata memang termasuk yang paling aktif juga. Terkadang dia pun mengeluh kelelahan saat tuan kami terlalu banyak membuka gawai. Namun, setidaknya dia bisa melihat berbagai objek baik di dunia nyata maupun maya. Jadi tak bosan-bosan banget.

Otak dan Mata meskipun sibuk, tetapi mereka bisa mendapat waktu istirahat lumayan. Sementara aku dan teman-teman sesama geng jari, nyaris dua puluh empat jam tetap bertugas. Hal ini karena tuanku sering tiba-tiba ketiduran, saat sedang memegang gawai di malam hari.

Tentu saja, aku dan teman-teman sesama jari tangan harus tetap siaga. Menjaga agar gawai itu tidak jatuh ke lantai, atau menimpa muka tuanku. Ah apapun tugas dan tanggung jawab kami, setidaknya aku beruntung mempunyai teman-teman baik yang banyak. Tak hanya geng jari kanan, geng jari kiri pun selalu baik dan bekerja sama dengan kami.