Covid, Sadarkan Aku untuk Kembali Mengejar Pahala Beribadah dari Rumah

Covid, Sadarkan Aku untuk Kembali Mengejar Pahala Beribadah dari Rumah

Design by canva (lithaetr)

Assalamualaikum sobat web nulis bareng rumedia, semoga semuanya dalam keadaan sehat dan bahagia ya, aamiin.

Pernah menjadi seorang wanita yang bekerja di ranah publik, sempat membuat saya ragu dan takut jika suatu saat harus bekerja dari rumah saja atau berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Tapi pilihan itu pun terjadi pada tahun 2016 lalu dan ketakutan saya menjadi nyata. Saya harus memilih menjadi ibu rumah tangga (irt) buat anak-anak.

Di awal menjadi irt, bagi saya tidaklah mudah. Saya yang terbiasa mempunyai rutinitas teratur dan memiliki pendapatan sendiri, kini di rumah memiliki ritme baru nan berbeda sekaligus pengangguran. Iya, saya merasa menjadi pengangguran yang tidak menghasilkan pendapatan. Akhirnya karena mindset jelek itulah saya stres.

Saya sadar betul ada yang salah dalam diri ini, jadilah saya mencoba mencari teman untuk belajar memperbaiki diri. Akhirnya, saya dipertemukan oleh sebuah komunitas yang bernama Ibu Profesional. Dari sinilah, saya banyak menerima pencerahan tentang irt. Bahwasannya pekerjaan sebagai irt itu mulia. Bahkan ketika Fatimah ra. mengeluh kepada Rasulullah tentang beratnya menjadi irt, Baginda Nabi Muhammad Saw. memberikan beberapa nasihat kepada putrinya, seperti ini:

Dilansir dari repubika.co.id (21/10/2019), dalam Kitab Uqudullujain Karya Imam Nawawi Al-Bantan memuat kisah yang menyemangati para istri atau wanita yang akan menikah, juga untuk bahan renungan bagi suami untuk lebih menyayangi istrinya. Karena dalam rumah tangga, wanita memiliki tugas yang sangat berat. Hal tersebut tergambar pada kisah Fatimah Az-Zahra. Suatu ketika, Rasulullah mendatanginya. Wanita itu dalam keadaan menangis sambil menggiling gandum.

Melihat putrinya yang sedang menangis, Nabi mendekati putrinya, lalu bertanya, Wahai Fatimah mengapa engkau menangis? Allah tidak menyebabkan matamu menangis. Lalu, Fatimah menceritakan kepada ayahnya perihal sesuatu yang membuatnya menangis, Wahai ayahku, aku menangis karena kesibukan tugas rumah tangga yang aku kerjakan setiap hari tanpa seorang pun yang membantu.

Kemudian, Nabi duduk di samping Fatimah. Lalu, Fatimah melanjutkan ceritanya, Wahai ayahku, dengan keutamaan yang engkau miliki, tolong katakan pada Ali supaya mau membelikan budak untukku agar dapat membantu menggiling gandum dan mengurusi pekerjaan rumah.

Setelah mendengar cerita tersebut, Nabi SAW berdiri dan mengambil gandum dengan tangannya mengucapkan bismillah. Kemudian, Nabi berkata kepada putrinya sebagai bentuk nasihat dan penyemangat supaya putrinya tidak lagi mengeluh ketika melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Beliau memberikan lima nasihat kepada Fatimah terkait keluhannya.

Wahai Fatimah, Allah ingin menulis kebaikan untukmu, melebur dosa-dosamu,dan mengangkat derajatmu. Wahai Fatimah, tiada istri yang meng giling tepung untuk suami dan anak nya kecuali Allah mencatatkan kebaikan baginya pada setiap biji dari gandum, meleburkan dosanya, dan meninggikan derajat-nya.

Wahai Fatimah, tiada keringat istri ketika menggiling tepung untuk suaminya kecuali Allah menjadikan jarak baginya dan neraka sejauh tujuh khanadiq. Wahai Fatimah, tiada istri ketika me makaikan minyak rambut pada kepala anaknya, menyisir, dan mencuci pakaiannya kecuali Allah mencatatkan baginya senilai pahala orang yang memberi makan seribu orang lapar dan ditambah dengan pahalanya orang yang memberi pakaian pada seribu orang telanjang.

Wahai Fatimah, ketika seorang istri mengandung janin di perutnya, malaikat memintakan ampun untuknya, Allah menulis 15 ribu kebaikan baginya, ketika datang rasa sakit melahirkan, Allah SWT menulis pahala baginya senilai pahala mujahidin, dan ketika seorang bayi telah lahir darinya maka Allah mengeluarkan berbagai macam dosa darinya hingga dia bersih kembali sebagaimana hari ketika dia dilahirkan oleh ibunya.

Dari kisah di atas, kemudian saya mulai berdamai dan menikmati peran saya sebagai irt. Saya siap mengejar pahala saya dengan beribadah dari rumah. Apalagi dengan adanya pandemi covid-19 ini, yang sudah berjalan selama 2 bulan, kita dihimbau untuk lebih banyak berkegiatan dari rumah. Maka, sebagai irt saya sedikit bersorak gembira, mengapa? Sebab, ladang pahala kami para irt semakin terbuka lebar. Ladang ibadah kami dari rumah semakin meningkat.

Di bulan yang Ramadhan penuh mulia ini dan dengan adanya pandemi ini semakin membuat saya sadar kalau mengejar pahala itu bisa dilakukan dari rumah saja. Mulai dari menyiapkan sahur, hingga tidur kembali bisa menjadi ladang beribadah, bagi kami para irt. Yuk, kita niatkan semua aktivitas kita untuk beribadah kepada Allah. Semoga kita selalu mendapatkan keberkahan dan rida dari Allah Swt. Aamiin aamiin Allahumma amiin.

Oh iya, silakan bagi sobat Rumedia yang ingin berbagi kisah menarik selama berada di rumah saja, boleh banget merapat ke event Juni berjudul ‘Ada Cerita di Balik Corona’. Yang mau gabung silakan hubungi nomor telepon yang ada di flyer, ya.

design by ibis paint (lithaetr)

Nubar-Nulis-Bareng/Lithaetr