COVID-19 MASIH SETIA

Entah sudah berapa lama kami harus tetap bersabar dengan keadaan ini. Tetap berada di rumah sesuai anjuran pemerintah.

Melakukan segala aktivitas di batasi dengan segala peraturan demi kebaikan bersama.
Mobilitas yang di minimalisir, perkumpulan di hindari bila tak terlalu penting, bepergian jauh serta berkerumun dengan khalayak ramai pun tidak di anjurkan.

Covid-19 semakin merajalela, meski sempat menurun dan membaik. Meski hanya sebentar, namun luar biasa.

Bisa sekedar bernafas, melihat suasana jalanan yang lama tak dilalui.
Selalu berdoa dan berusaha yang terbaik, menjaga kesehatan diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar.

Namun virus Covid-19 memang kejam bak layaknya Ibu Tiri. Tak mengenal usia, jenis kelamin, kasta. Entah siapa dia, bila terlena maka terpapar-lah.

Meski sudah sesuai dengan protokol kesehatan (prokes), memakai masker dan selalu sedia handsanitizer, cuci tangan dengan sabun, bila imun tubuh sedang tidak baik-baik saja, mau bilang apa?

Memang semua adalah kehendak Tuhan.
Bukan tidak mau mengikuti aturan, hanya saja ada sebagian orang-orang yang memang harus keluar untuk bekerja.

Belum bisa berdiam diri di rumah sedangkan yang mereka pikirkan adalah, keluarga mau makan apa?

Contoh adalah pedagang. Mungkin bagi kaum milenial yang mengerti akan dunia internet, bisa mempromosikan, menjual lewat sosial media.

Sedangkan para pedagang di pasar? Orang yang berjualan makanan dengan modal pas-pasan? warung-warung kecil?

Apalagi kalau yang buka bengkel tambal ban? Haruskah online juga?

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu