CORONA, MEMBUAT LEBARAN ISTIMEWA

Pemandangan seperti ini baru pertama kali ku lihat setelah 7 tahun saya berdomisili di tempat ini. Biasanya di hari lebaran hanya ada 2 atau 3 orang kepala keluarga yang masih bertahan itupun tidak lama karena mereka mudik ke kampung halamannya masing-masing.

Kali ini sekitar warga perum Al-Ridwan berkumpul. Sesuai anjuran pemerintah untuk tetap di rumah dan tidak mudik. Para Bapak yang terkunci di perum memunculkan ide-idenya untuk menghangatkan komplek. Kegiatan salat wajib dan salat sunat di masjid tetap berjalan, begitupun kegiatan khusus Ramadhan juga terselenggara di masjid. Dibentuk pula panitia penerimaan zakat. Warga komplek bisa menyalurkan langsung zakat fitrahnya kepada panitia untuk kemudian setelah terkumpul diberikan kepada mustahik zakat atau orang yang berhak menerima zakat.

Seperti kegiatan salat id hari inipun direncanakan dan ditata oleh para bapak-bapak. Sebelumnya, tokoh DKM mengumumkan bahwa salat Id akan dilaksanakan di musala dengan tetap mengikuti protokol Kesehatan yaitu memakai masker dan membawa sejadah sendiri dari rumah masing-masing, serta tetap menjaga jarak. Nah urusan menjaga jarak ini yang agak kami langar. Karena merasa sudah sekian lama bersama, sehingga menjadi dekat seperti pada keluarga sendiri, jadi kami secara spontan tidak memberikan jarak antara kami. Setelah salat Id dan khutbah, kami maaf-maafan di tutup dengan makan ketupan bersama. “Untuk lebih mengakrabkan para warga!” demikan kata pa Sanusi sebagai ketua DKM komplek.

Disini kami jadi saling kenal, saling menjaga, bertukar kue, dan satu yang hadir instimewa pada tahun ini adalah peduli. Biasanya warga yang tinggal di komplek perumahan itu lebih individual, karena mereka sibuk bekerja. Berangkat pagi pulang sore atau malam sehingga tidak ada waktu untuk sekadar bertemu atau menyapa tetangga. Sehingga kadang tukang ojol pun dibikin bingung begitu menanyakan seseoarng penghuni komplek, karena kami tidak mengenal satu sama lain.

Hikmah kehadiran corona dan menjadikan lebaran kali ini istimewa adalah hadirnya keluarga baru, saudara baru, teman baru. Juga yang tak kalah penting adalah munculnya sifat peduli dan kasih sayang sesama warga. Disisi lain kami sedih karena tidak dapat bertemu dengan sanak saudara lain. Tidak bisa sungkem kepada orang tua, tidak bisa mudik, tapi disisi lain kami memiliki saudara baru.

Suka duka terangkai dan terbentuk selama lockdown. Kami yang biasanya tak acuh, kini untuk semua saling menjaga. Ketika mainan anak tertinggal di jalan maka yang pertama menemukan akan mengembalikan kepada pemilik atau mengamankannya terlebih dahulu untuk kemudian diberikan kepada pemilik. Anak-anak biasa bermain di rumah siapa saja, karena semua keluarga terbuka. Kami berharap semoga corona segera pergi, dan berharap silaturahmi ini tetap terjaga sampai akhir nanti.