CORONA MEMANG KEJAM

CORONA MEMANG KEJAM
(Ida Saidah)

Aku baru saja tuntas menyapu halaman yang luasnya tidak lebih 4 meter persegi. Tiba-tiba hujan turun deras sekali. Aku menarik nafas dalam-dalam.

Pikiranku melayang pada sosok lelaki perkasa. Lelaki yang telah menjadikanku dipanggil mama oleh tiga bocah yang lincah. Umurnya masing-masing beda 2 tahun. Si sulung berusia 6 tahun. Semuanya berjenis kelamin laki-laki.


Ya, lelaki perkasa. Demikian aku menyebutnya. Sebutan itu, bukan karena tubuhnya tinggi besar. Melainkan karena semangat hidupnya yang luar biasa kuat. Suamiku penyintas gagal ginjal stadium 5.

Pun pagi ini, ia telah berangkat ke tempat kerjanya. Ia bekerja sebagai tukang cuci mobil di servis kendaraan milik Pak Haji. Jika pengunjung sepi, ia mengerjakan bersih-bersih lainnya. Menyapu, mengepel, membersihkan rumput, dan bahkah disuruh mengecat dinding rumah. Ia tidak pernah menolak untuk melakukan suatu pekerjaan selama ia mampu menyelesaikannya. Intinya tidak pernah milih-milih pekerjaan. Jadi jangan heran bila majikannya sayang dan sering menitipkan uang jajan untuk anak kami.


Untuk sampai ke lokasi kerja. membutuhkan waktu tidak lebih dari setengah jam dari tempat tinggal kami. Rumah kontrakan ukuran 30 meter persegi mencakup halaman.

Melihat ukurannya betapa sempitnya kontrakan kami. Namun anehnya kami selalu merasa lapang. Aku sungguh bahagia. Terima kasih ya Allah atas semua anugerah-Mu.


Tiba-tiba hatiku dag-dig-dug. Ada apa dengan suamiku? Anak-anak semua baik-baik saja. Semua dalam pengawasanku. Ah, kok ingat dia terus. Ia sehat. Ia baik-baik saja saat mau berangkat. Nanti siang kan jadwal Hemodialisa. Ia akan langsung menuju rumah sakit langganan. Aku jarang sekali mengantar. Bukan maksud hatiku untuk tidak menemaninya. Masalahnya, jika aku ikut ke rumah sakit, nanti anak-anak dengan siapa. Aku di sini merantau. Jauh dari sanak saudara.


Guna memenangkan hati, kucoba menelepon. Sayang hanya bunyi nut nut nut nut yang kudengar. Wah HP-nya tidak aktif. Habis baterai gitu atau kenapa ya. Seribu tanya datang silih berganti. Akhirnya aku menelepon ke tempat kerjanya. Alhamdulillah dapat jawaban bahwa suamiku belum sampai, mungkin berteduh dulu karena hujan sangat deras.


Yang menerima telepon mengatakan bahwa ia akan segera menyampaikan pesanku saat tiba. Dering telepon dari suamiku tak kunjung berbunyi. Ada satu telepon yang masuk dari pemilik rumah kontrakan. Beliau mengingatkan untuk segera membayar sesuai janji. Aku mengiyakan untuk segera membayar sepulang suamiku sore nanti. Paling telat besok pagi sudah diantar.


Jarum pendek jam dinding terus bergeser, perlahan namun pasti. Sekarang hujan sudah reda. Mengapa belum menelepon juga. Akhirnya kuputuskan untuk menelepon kembali ke tempat kerjanya. Jawaban yang didapat sungguh ketus, “Tidak masuk”.


Aku semakin tidak berkonsentrasi. Pikiran buruk menyerbu. Jangan-jangan lelaki perkasa itu tabrakan atau …. Ah aku bertambah bingung. Linglung. Tanya kepada siapa lagi?


Aku hanya bisa mondar-mandir. Tiba-tiba tukang warung biasa tempat kubelanja datang memanggil. Waduh jangan-jangan ia menagih utang. Tidak biasanya. Aku kan selalu melunasi utang dengan segera jika memang uang sudah ada.


“Mama Arin, itu itu itu di tivi ada Bapak Arin.”


“Ah masa iya, masuk tivi segala. Jangan bercanda!”
“Benar, ayo lihat!”


Berita sudah berpindah ke peristiwa lainnya. Aku mendapat informasi tentang telah ditemukan seorang lelaki tanpa identitas pingsan di samping motor yang dikendarainya saat sedang berteduh. Tidak seorang pun berani mendekat karena khawatir terpapar Corona.


Innalilahi, semua menjadi gelap-gulita. Akhirnya aku tidak ingat apa-apa lagi.