Cita, Cinta Dan Luka (Bagian 2)

Sekembalinya ibu ke rumah, keadaan rumah berubah 360 derajat. Rumah yang tadinya penuh dengan suka cita, berubah menjadi penuh tangis dan air mata. Ibu yang tadinya lemah lembut, berubah menjadi pemarah. Aku dan ayah sering dimarahi ibu, apalagi ayah pasti selalu diperlakukan kasar oleh ibu.

Waktu terus berjalan, keadaan rumah semakin mencekam. Ibu sering bepergian entah kemana, dan ayah diam-diam sering menangis di belakangku. Keadaan rumah kami mulai diketahui tetangga. Gosip demi gosip mulai menggema di udara. Ada yang bilang ibu tega, ia berani selingkuh dibelakang ayah. Ayah tidak menghiraukan gosip tersebut, ayah tetap berusaha mempertahankan pernikahannya. Aku juga tak menghiraukan gosip yang beredar, aku lebih memfokuskan diriku untuk persiapan ujian nasional.

Ujian nasional selesai dilaksanakan, aku bisa sedikit bernafas lega. Sekolah sudah mulai tidak efektif, aku hanya tinggal menunggu kelulusan. Selama jeda sekolah, aku menjadi lebih mengetahui keadaan hubungan ayah dan ibu. Ayah dan ibu sudah benar-benar hidup masing-masing. Ibu lebih banyak beraktifitas di luar rumah bersama teman lelakinya, sedangkan ayah lebih banyak menghabiskan waktu di pesantren Al-Barokah yang berada di kampung sebelah.

Selama masa menunggu kelulusan, aku memutuskan mengikuti jejak ayah, menghabiskan waktu di pesantren. Pada hari pertama aku ikut ayah ke pesantren, aku diperkenalkan dengan Umi Salamah istri dari Abah Burhan pimpinan pesantren Al-Barokah.

“Assalamu’alaikum, abah, umi.” Ucap ayah pada abah dan umi yang sedang duduk di depan rumahnya.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab abah dan umi kompak.

“Silahkan duduk.” Ajak umi.

Aku dan ayah duduk di hadapan abah dan umi. Ayah langsung memperkenalkanku pada abah dan umi. “Perkenalkan abah, umi, ini Alisha anakku.”

Dengan sopan aku tersenyum dan langsung mencium tangan keduanya. Abah dan umi orang yang baik, ternyata selama ini ayah sering curhat tentang keluarga kami pada abah dan umi. Ayah memang tipe orang yang senang meminta saran orang lain, berbeda denganku yang memiliki sikap pendiam dan tertutup pada semua orang. Semenjak sering mendengar ayah dan ibu bertengkar, aku memang menjadi malas berbicara pada siapapun. Tapi, entah kenapa saat melihat umi Salamah, aku jadi ingin memeluk dan berbagi cerita dengannya.

Umi Salamah sepertinya memahami isi hatiku. Tiba-tiba umi bertanya padaku. “Alisha ada apa sayang? Ada yang ingin disampaikan pada umi?”

“Iya umi…” Jawabku lirih.

“Kalau begitu kita ke mushola yuk.” Ajak umi padaku.

Aku dan umi pergi ke mushala bersama-sama. Sesampainya di mushala, umi memintaku duduk di pojok kiri mushala, sementara umi pergi ke lemari di pojok kanan mushala, entah apa yang ingin umi ambil di lemari tersebut.

nubarnulisbareng/riskaamelia