Cita, Cinta dan Luka (Bagian 4)

Saat kami sedang berkumpul di teras rumah Abah dan Umi, azan zuhur berkumandang. Kami berempat langsung bersiap untuk berangkat ke masjid. Sebelum masuk masjid, Umi mengajakku mengambil air wudu terlebih dahulu. Setelah selesai berwudhu, Aku dan Umi masuk ke dalam masjid.

Ku langkahkan kaki kananku masuk ke dalam masjid, seketika rasa nyaman kembali menelisik hati. Ini pertamakali aku masuk masjid lagi, setelah hampir 1 tahun tak pernah menginjakkan kaki di masjid. Bukan hanya kaki dan hati yang tenggelam dalam kenyamanan, mataku pun terlena dengan suasana di dalam masjid. Masjid ini penuh sekali dengan para santri dan santriwati. Para santri dan santriwati duduk rapih dan kompak melantunkan shalawat.

Seketika di dalam pikiranku, terlintas suasana masjid di komplek rumah. Masjid di dekat rumah memang besar dan mewah, namun disana tak pernah seramai ini. Setiap waktu shalat, masjid hanya terisi tak lebih dari dua baris. Ketika waktu pengajin rutin mingguan, yang datang mungkin hanya setengah dari warga komplek, bahkan terkadang kurang dari itu.

Aku tersadar dari lamunan ketika umi menepuk pundakku. Aku dan Umi langsung masuk ke dalam barisan para santriwati. Semua santriwati tersenyum sopan ketika melihat Umi. Umi mengajakku duduk di tepi barisan paling depan, yang sepertinya sengaja dibiarkan kosong.

Lantunan suara ikamah yang merdu mulai terdengar. Aku merapihkan posisiku dan bersiap shalat. Kami semua melaksanakan shalat dengan sungguh-sungguh.

Selesai shalat zuhur berjama’ah, tidak ada satu orangpun beranjak dari tempatnya. Aku yang tadinya hendak membuka mukena dan merapihkannya, akhirnya tidak jadi kulakukan. Tak lama terdengar suara Abah, “assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.”

Semua yang ada di dalam masjid serentak menjawab salam Abah, “wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh.”

Setelah semua menjawab salam Abah, Abah melanjutkn ceramahnya. Aku mendengarkan semua yang disampaikn Abah dengan baik-baik. Aku tipe orang yang tidak senang mendengar ceramah, tapi ceramah Abah ini, enak didengar, mudah dipahami, dan tidak terkesan menggurui, aku jadi tidak bosan mendengarkan ceramah Abah.

Dalam ceramahnya, Abah membahas tentang QS. Al-Baqarah ayat 216. Abah menjelaskan, “Sering kali, saat kita mendapati suatu cobaan atau permasalahan yang tidak kita sukai, maka kita marah, kecewa, sedih, ngomel, dan akhirnya putus asa. Padahal, bisa jadi apa yang tidak kita sukai itu malah baik bagi diri kita. Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi. Untuk itu, syukuri apa pun yang terjadi saat ini, niscaya dibalik semua itu ada hal baik yang sedang menanti kita.”

Mendengar ceramah Abah, pikiranku mulai terbuka. Aku memang tidak menyukai keadaan rumah saat ini, aku sedih kesal dan marah pada Ibu dan Ayah, tapi Aku tidak berhak marah dan mengeluh. Aku meyakini bahwa Allah SWT sedang mempersiapkan yang terbaik untuk Aku, Ayah dan Ibu.

Ceramah Abah selesai, kami semua bersiap merapihkan diri dan keluar dari masjid. Saat diperjalanan dari masjid ke rumah Abah Burhan dan Umi Salamah, terdengar sura ayah memanggilku. Ayah mengajakku pulang kerumah dan kami pun berpamitan pada Abah dan Umi. Saat Aku berpamitan dan mencium tangan Umi, Aku meminta izin agar besok diperbolehkan untuk datang lagi ke pesantren Al-Barokah ini. Umi tersenyum dan menginzinkanku untuk datang lagi kapanpun Aku mau.

nubarnulisbareng/riskaamelia