Cita, Cinta Dan Luka (Bagian 3)

Umi ternyata membawa Al-Qur’an. Umi duduk disebelahku dan memberikan Al-Qur’an yang dibawanya padaku. Aku heran, kenapa Umi memberikan Al-Qur’an padaku, tapi Aku tidak berani bertanya langsung.

Umi tiba-tiba berbicara, “Coba Alisha buka dan baca surat al-Isra’ ayat 82!”

“Tapi Umi kenapa aku harus membacanya?” tanyaku pada Umi.

“Setelah Alisha membacanya, Umi akan menjelaskan maksudnya,” jelas Umi.

“Tapi Umi, Aku sudah lama tidak membaca al-qur’an, aku takut salah Umi…” jelasku lirih.

“Alisha baca saja, Umi akan membantu membenarkan bila ada yang salah,” jelas Umi.

Akupun membaca QS. al-Isra’ ayat 82 yang Umi pinta. Aku membaca dengan terbata-bata, namun Umi tetap membimbingku agar dapat membaca dengan benar.

Dipertengahan ayat, entah mengapa ada rasa tenang menelisik hatiku. Seketika air mata mengalir di pipiku. Aku berusaha menahan air mataku agar tidak terus menetes. Akhirnya, Aku selesai membaca ayat yang Umi minta. Ku tutup Al-Qur’an dan Ku tatap Umi, berharap Umi langsung menjelaskan maksudnya.

“Umi mendengar suara tangis yang tertahan saat Alisha membaca Al-Qur’an tadi, kenapa?” tanya Umi.

Aku hanya menunduk dan tidak menjawab pertanyaan Umi. Bukan karena tidak sopan atau tidak mau menjawab pertanyaan Umi, tapi aku juga tidak tahu kenapa.

“Alisha tahu tadi itu ayat tentang apa?” tanya Umi lagi.

“Tidak Umi…” jawabku lirih.

“QS. al-Isra’ ayat 82 adalah Firman Allah SWT yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman,” jelas Umi.

Saat mendengarkn penjelasan Umi, Aku langsung bertanya, “Apakah tadi saat Aku membacanya, Allah sedang membantu menyembuhkan hatiku Umi?”

“Insyaallah begitu, kenapa Alisha bertanya seperti itu?” Umi balik bertanya padaku.

“Sebenarnya saat tadi Aku membaca ayat yang Umi minta, entah kenapa ada perasaan tenang dan entah kenapa tiba-tiba Aku ingin menangis Umi. Sebenarnya aku kenapa ya Umi?” tanyaku lagi.

“Inilah maksud Umi, Umi meminta Alisha membaca ayat tadi agar Alisha merasakan sendiri bahwa Al-Qur’an adalah obat bagi jiwa dan raga Alisha yang gundah,” jelas Umi.

Akupun langsung menangis, Umi tiba-tiba memelukku. Dipelukan Umi, Aku menangis semakin menjadi. Aku tiba-tiba berani bercerita lebih jauh pada Umi. Aku menjelaskan semua isi hatiku dengan begitu saja. Di mulutku tiba-tiba keluar semua hal yang selama ini Aku pendam. Dalam pelukan Umi aku larut dalam ceritaku sendiri.

Umi seperti sangat memahami perasaanku saat ini. Ku dengar umi ikut menangis. Umi menasehatiku, agar Aku sabar dan kuat menghadapi semua ini. Umi menasehatiku, agar Aku bisa membantu Ayah menyadarkan Ibu. Umi juga menyarankanku, agar Aku lebih mendekatkan diri pada Allah. Umi menyarankanku untuk lebih banyak membaca Al-Qur’an agar hatiku selalu tenang.

Setelah mendengarkan semua nasehat dan saran Umi, Aku mulai tenang dan berhenti menangis. Perlahan Umi mulai melepaskan pelukannya padaku. Umi menatapku dan kembali menasehatiku agar Aku selalu sabar, kuat dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Aku menganggukkan kepalaku.

Aku dan Umi memutuskan kembali bergabung dengan Ayah dan Abah Burhan, yang sedari tadi sedang mengobrol di teras rumah Umi. Entah apa yang Ayah dan Abah bicarakan, yang Ku tahu, Aku senang dan merasa nyaman berada di sini. Aku berencana akan datang ke Pesantren Al-Barokah milik Abah Burhan dan Umi Salamah ini setiap hari seperti Ayah.

nubarnulisbareng/riskaa