Cita, Cinta Dan Luka (Bagian 1)

Bulir-bulir air mata terus berjatuhan. Suara ayah dan ibu yang saling berteriak masih terdengar meski aku sudah menutup telingaku. Sudah satu jam berlalu pertengkaran mereka tak kunjung berakhir. Ku kunci pintu kamar agar ayah tak masuk kamarku. Sudah menjadi kebiasaanya setelah pertengkaran selesai pasti ayah masuk ke kamarku dan ibu pergi dari rumah.

Pasti kalian heran kenapa ayah yang tetap bertahan di rumah dan ibu yang pergi keluar rumah menghindari keadaan ini. Ya, ayah lah yang selalu langsung menghampiriku dan memelukku bila selesai bertengkar dengan ibu. Ayah yang selalu menenangkanku dan selalu mengucapkan maaf padaku. Sedangkan ibu? Dia entah pergi kemana dan baru kembali esok harinya. Keadaan ini sudah berlangsung hampir setahun. Ibu dan ayah bertengkar hampir setiap hari.

Dulu keluarga kami termasuk keluarga yang harmonis. Rumah kami penuh dengan canda dan tawa. Ibu dan ayah sangat menyayangiku. Apapun yang aku mau selalui dikabulkannya. Setiap hari kita selalu menyempatkan menghabiskan waktu bersama-sama, meski ayah sibuk di perusahaannya.

Ayahku seorang pengusaha sukses. Ayah membuat kerajinan dari kulit dengan skala besar. Kerajinan buatan ayah beragam, ada tas, sepatu, sandal, jaket, sabuk dan dompet. Semua kerajinan tersebut berbahan dasar kulit sapi dan domba asli. Semua produk dari perusahaan ayah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Teman ayah yang sedang melanjutkan studi magister bisnis di UC San Diego Rady School of Management, juga ikut memasarkan produk ayah di San Diego, Amerika Serikat.

Keadaan harmonis keluarga kami berubah saat usiaku memasuki usia 17 tahun. Perusahaan ayah mengalami kebangkrutan. Perusahaan milik ayah tutup total setelah ayah ditipu mentah-mentah oleh rekan bisnisnya. Ibu tidak dapat menerima keadaan ini. Ibu marah besar dan menyalahkan ayah sebagai penyebab keluarga kita jatuh miskin.

Di awal kebangkrutan ayah, ibu sempat kabur dari rumah dan tinggal di rumah nenek. Ibu kembali lagi ke rumah setelah nenek menasehatinya. Menurut nenek kasihan aku yang saat ini sudah menginjak usia remaja dan akan menghadapi ujian nasional di SMA. Menurut nenek aku akan sangat membutuhkan sosok ibu. Dan membutuhkan ketenangan juga keluarga yang utuh dan harmonis.

nubarnulisbareng/riskaamelia