Cinta Monyet nan Tergencet

Hujan menemani perjalan kita pagi itu. Di mobil yang membawaku ke kantor dan kamu ke sekolah radio mengisahkan kesuksesan BTS. Lalu mengalirlah kisahmu tentang sang pujaan yang pergi darimu. Kakak kelasmu sebentar lagi akan jadi mahasiswa, dan ia berangkat ke seberang sana untuk pendidikan tingginya.

Aiihhh remajaku yang mendamba. Rasamu ternyata berkembang sempurna. Aku terus terang bahagia, dengan seluruh cerita cinta ini, meski ini hanya cinta sendiri.

Pemujaanmu pada sang idola, setidaknya menyadarkanku, bahwa diusiamu ketertarikan pada lawan jenis bisa mendominasi pikiran. Ketidakmampuanmu untuk mengungkapkan rasa padanya, bagiku juga sebuah kesyukuran. Mendamba itu menyesakkan, memendam rasa pun demikian. Namun begitu, keterpisahan yang akan kau alami, perginya ia dari hidupmu saat ini, seharusnya bisa kau lihat sebagai sebuah belokan perjalanan. Jika tujuan kalian adalah sama, pasti nanti akan berjumpa.

Biarlah rasamu kau simpan sendiri. Tak perlu kauungkap agar dia mengetahui. Menangis sebentar untuk kepergiaannya, lalu balut hatimu yang merindu dengan kesibukan belajarmu. Percayalah, pelan dan pasti engkau akan melupakannya. Kalaupun sosok itu tetap bersemayam di hati, biarkan saja. Rindu juga tidak harus berjumpa. Jika begitu sesak, alihkan pada hal-hal lain yang engkau suka. Bukankan minatmu cukup banyak?

Aku juga ingin kau punya gambaran, bahwa mengungkap rasa belumlah akan menyelesaikan persoalan.

Bila ia ternyata juga suka padamu, mungkin keterusteranganmu akan menyenangkan hatimu, tapi itu hanya sesaat, sebab kemudian engkau akan berbalur kecemasan. Kalian terpisah jarak yang jauh, dan hubungan seperti itu hanya akan melahirkan keruh. Meresahkanmu saja.

Jika kau ungkap rasamu, dan ternyata dia hanya tersenyum padamu. Menghargaimu dan meninggalkanmu, atau kalau perilakunya masih jail, dan ia mentertawakanmu, apa yang terjadi dengan dirimu? Engkau akan malu dan enggan bertemu, atau kemudian hatimu hancur karena suka dan bencimu. Berarti memberitahu dia akan cintamu juga belum tentu menyelamatkan rasamu.

Pada akhirnya aku ingin mengatakan, tak mengapa kau datang padaku, membuat hujan di perjalanan kita pagi ini. Meski matamu akan sedikit sembab di sekolah nanti, tapi percayalah. Ini keputusan yang baik.

Perjalananmu masih panjang, mungkin nanti engkau bertemu lagi dengan sosok lain yang bisa melahirkan rasa suka, kita tidak pernah tahu bukan.

Masa remajamu akan selalu penuh warna, dan ukir saja bersama prestasi yang akan membuatmu memesona.

Percayalah, pada waktunya akan datang seseorang yang memujamu, dan engkau pun menyukainya.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita