CINTA… ANTARA RASA DAN LOGIKA

Cinta… Antara Rasa dan Logika

Pada suatu masa, hiduplah seorang Pecinta.
Masih muda, dengan sejuta mimpinya tentang dunia.
Penuh gairah, masih ingin menjelajah.
Tak hanya menatap dunia dari jendela namun jalan menapakinya, ia masih ingin meninggalkan jejak.

Namun, saat itu ia punya rasa.
Yang oleh banyak insan disebutnya cinta.

Munculah kebimbangan.
Saat jalan mimpinya datang, logikanya langsung berkata.. Maju!
Namun rasa, ah.. Galau betul ia.
Bagaimana dengan separuh hati yang terlanjur ia titipkan dengan sejuta harap?

Tak apa.. Kata yang dicintanya. Menyanggupi penantian.

Waktu terus berjalan. Bersama jejak si Pecinta nun jauh diseberang.

Waktu jugalah yang membuat rasa itu mengeluh. Lelah…

Si Pecinta yang terbiasa menatap sekarang hanya bisa berharap.

Si Pecinta yang biasa bertemu sekarang hanya bisa merindu.

Si Pecinta sekarang hanya bisa bertanya kabar melalui radar.

Tenang… Sebentar lagi pasti bertemu.

Namun, seribu sayang… semesta tak mendukung penantiannya. Jahat! katanya kala itu.

Rasa yang dimiliki si Pecinta remuk redam, layu bahkan sebelum merekah tercium wanginya.

Siapa lagi kalau bukan logika biang keroknya… batinnya.

Ternyata rasa yang dipupuknya, separuh hatinya itu tidak akan pernah bisa tumbuh apalagi mampu menembus tembok tinggi yang dibangun oleh yang dicintanya.

Apalah arti seorang yang belum mapan bagi sang Ayahanda yang dicintanya.

Si Pecinta hanya remah-remah tak berdaya tak berharta.
Yang dicintanya sadar. Logikanya lebih dulu berontak.
Tak akan berhasil.

Si Pecinta gengsi. Jiwa mudanya bergejolak. Egoisme tinggi, tak terima.
Rasa itu, ya rasa itu membuncah hendak menerjang, menyerang… Mempertahankan rasa.

Namun, ia ternyata cukup sadar diri. Sebelum egonya berhasil menguasai.
Logikanya ternyata tidak lemah.
Setelah menimbang setengah mengandai-andai, akhirnya ia menerima. Berat. Rasa itu kalah? Tidak juga.

Perpisahan itu hanya karna logika, rasa itu masih tetap ada.
Dibiarkan dulu olehnya.
Biar waktu yang menyembuhkan… harapnya.

Ia meminta pertanggung jawaban logika… Ia harus buktikan dirinya bukanlah remah-remah.

Membuktikan kepada dirinya sendiri.
Butuh usaha bagi si Pecinta untuk meraih lagi asa.

Ternyata ia menjadi satu dari sedikit pecinta yang bisa bangkit.
Rasa itu tak benar-benar kalah. Hanya diistirahatkan. Sejenak membiarkan rasa dan logika berdamai, membuat kesepakatan.

Hingga ia siap mencinta lagi. Kali ini dengan rasa dan logika yang sudah kompak… bersatu.
Berhasilkah?

Tentu saja. Sekarang ia justru tengah terlelap dalam buaian mimpi indah bersama buah cintanya. Lucu dan menggemaskan. Kerjasama yang baik dari rasa dan logikanya. Berhasil. Ia bukan lagi remah-remah. Ia diterima dan tentu saja menerima. Jauh lebih besar dan kuat penerimaannya.

Si Pecinta sadar bahwa banyak cinta bertebaran di bumiNya. Tak dapat yang satu maka berkelanalah. Sudah ditakdirkan cinta itu bagi pemiliknya. Jika tidak sekarang, mungkin esok lusa.

Si Pecinta mengajarkan bahwa cinta itu tidak selalu buta. Tidak selalu membuat mabuk tak tentu arah. Tidak pula membuat putus asa. Terlalu bodoh untuk berkata kalah sebelum benar-benar mati di medan perang. Begitu pikirnya.

Si pecinta membuktikan, cinta itu bukan hanya soal rasa tanpa asa atau logika tanpa peka.

Cinta itu rasa yang butuh logika dan logika yang kaya akan rasa.

Cinta itu kehidupan, penuh mimpi dan harapan.

Semoga kisah si Pecinta ini menular kepada insan lain yang sedang bermimpi tentang cintanya.

Rabu, 1 April 2020.

Di kamar yang redup karena sudah waktunya untuk menguntai mimpi, bersama si Pencinta itu dan hasil dari cinta kami… yang sedang terlelap… lucu dan menggemaskan.