Chiang Mai

Setelah berlibur ke Thailand bagian Selatan yang berbatasan dengan negara Malaysia, kita coba menjelajah ke Thailand bagian utara. Kota tujuan kami adalah Chiang Mai. Kota ini, dulunya, adalah ibukota kerajaan Thailand, sebelum dipindah ke Bangkok. Jarak antara Pathumthani – Chiang Mai sekitar 300 km.

Seperti biasa, kita menempuh jalan darat pakai mobil lagi. Selain irit, kita juga bisa berhenti sesuai dengan kebutuhan. Kalau anak-anak ingin pipis, kita cari pom bensin buat ke toilet. Kalau lapar, tinggal berhenti di minimarket. Kalau sudah tiba waktunya sholat, kita cari mesjid.

Ternyata menuju bagian utara Thailand, agak jarang menemukan mesjid. Makanya ketika menemukan mesjid, kita bahagia sekali. Mesjid yg kita temui kondisi bangunannya bagus hanya kurang terawat. Mungkin karena letak mesjid ini agak jauh dari pemukiman penduduk. Jadi kemungkinan besar, jarang ada yg membersihkannya. Berbeda sekali dengan pas perjalanan ke Krabi. Mesjid sering berada di tengah komunitas muslim. Bahkan ada mesjid yang menyatu dengan bangunan pesantren yang sederhana dan sekolah muslim.

Di Chiang Mai, kami memesan penginapan yang dekat dengan mesjid. Alasannya karena kami bisa sholat di mesjid dan ingin membeli makanan halal. Penginapannya dekat dengan supermarket besar. Supermarket ini menyediakan makanan halal dan siap santap. Akhirnya kalau gak beli makanan di mesjid, ya ke supermarket. Tinggal dihangatkan pakai microwave di penginapan. Ada satu ruangan di penginapan yang bisa digunakan oleh para tamu. Roti dan selainya, gula, kopi dan teh tersedia. Kue kering dalam toples. Juga ada toaster, microwace dan kulkas. Jadi kalau pagi, sarapan roti plus selai saja di sini.

Kota Chiang Mai lebih ramai dibandingkan Krabi dan Pathumthani. Seperti Bangkok saja kesibukannya. Hanya saja, kota Chiang Mai lebih kecil dibandingkan dengan luas kota Bangkok. Kami berkunjung ke museum, kebun binatang dan pasar malam.

Museum yang kami kunjungi benar-benar asyik. Mereka tidak hanya memajang replika sejarah, tapi ada juga bioskop mini yang memuat hingga 20 orang. Film yang diputar adalah sejarah tentang kota Chiang Mai. Nampak terawat sekali museum ini. Bahkan banyak guide yang menolong pengunjung apabila pengunjung kesasar, seperti saya waktu itu hehe. Karena tulisannya banyak memakai huruf Thailand sedangkan bahasa Inggrisnya sedikit.

Kebun binatangnya sangat luas. Kita sampai capek mau keliling. Akhirnya kita lihat peta, mau lihat binatang apa saja. Karena penasaran, kita menuju ke tempat panda. Ternyata, kalau masuk ke area panda harus bayar lagi, sedangkan anak bungsu tidak tertarik buat masuk ke situ, jadi batal deh. Kita lihat yang lain saja seperti jerapah, singa, harimau, burung, mirkat dan lain-lain. Yang sangat berkesan di kebun binatang ini adalah makanannya. Makanan khas di Chiang Mai mirip sekali dengan gule di tataran sunda hanya saja karinya lebih kental. Dan kebetulan sekali, ibu penjualnya bisa berbahasa melayu. Bahkan saking senangnya beliau bertemu dengan sesama muslim, beliau memberikan makanan khasnya, seperti perkedel jagung kalau di sini, secara gratis, buat kami. Beliau bilang, “Ini buat kamu, gratis, saudaraku,”

Berkunjung ke pasar malam dengan tujuan beli pakaian bersih yang sudah menipis. Tujuannya beli kaos saja. Akhirnya kita berhenti di kios yang jualan baju anak dan dewasa. Kaosnya didominasi oleh gambar maskot Thailand, gajah, yang di dalam bahasa Thailand di sebut “Chang”. Sang penjual bertanya kepada saya, dari mana asal saya. Saya jawab dari Indonesia. Lalu dengan antusias, babang penjualnya bilang, “Do you know about the song tak tuntuang?”

Kening saya berkerut, karena saya gak pernah lagi nonton tv. Meskipun di apartemen ada tv tapi semuanya channel tv Thailand dan berbahasa Thailand, jadi saya gak ngerti. Saya jawab saja tidak tahu. Eh dengan semangat empat lima, sang penjual menjelaskan kalau lagu itu sangat populer di sana karena dinyanyikan di salah satu ajang cari bakat nyanyi di negaranya dan Indonesia. Saya lupa nama acaranya. Sampai segitu terkenalnya lagu itu dia sampai nyanyi di depan kita. Saking akrabnya, babang penjual memberikan diskon buat saya hehe.

Itulah salah satu cerita liburan kami di perantauan. Seru dan banyak sekali hikmahnya buat kami. Semoga bermanfaat untuk yang membacanya.

Wawang Yulibrata