Cerita Hijrah

Bagian III

Awalnya aku ragu, apa sih yang akan aku dapatkan dengan ngaji? Toh yang penting aku gak pernah nyolong apalagi nipu…tapi gak apa-apa juga aku coba.

Kajian pertama pembahasan tentang manusia dan sang pencipta yang kini kukenal…Thariqul iman. Dua jam yang terlewati membuatku merasa amazing..! Ada titik balik dari kehidupanku. Aku menangis tergugu dalam sembilu. Merasa aku sangat kacau ketika beliau saat menjelaskan bahwa manusia itu akan kembali pada sang penciptanya dan mempertanggung jawabkan perbuatan masing-masing ketika didunia.
.
.

Dua bulan berlalu dalam riayahannya, aku kini mengenal hijab kerudung syar’ i beserta gamis panjang, semua itu pemberian dari ustadzah aska, keseharianku tak lagi dijalanan.

Menjadi ajudan kemanapun beliau pergi aku selalu ikut serta, dibonceng motor bututnya, kubawakan tasnya yang penuh dengan buku dan kitab-kitabnya. Entahlah, tiba-tiba aku merasakan ada kenyamanan dan ketenangan dengan kehidupanku yang sekarang.

Pernah sekali ada cerita lucu saat hari pertama aku pakai kerudung. Saat aku diajak ustadzah Aska sholat di masjid Jami’ kerudungku tertinggal seusai wudhu, dan beliau tersenyum sambil memberikan isyarat agar aku mencari dan memakai kerudungku kembali.
.
.
.

Sepuluh tahunpun berlalu, setelah aku dipersunting oleh seorang pemuda yang sholih sepupu dari ustadz Aska, kehidupanku menjadi nyaris sempurna.

Aktivitasku disamping menjadi istri yang sholikhah sekaligus sebagai pengemban dakwah, kusuarakan opini Islam dengan lantang, mengisi forum forum pengajian persis yang dilakukan ustadzah Aska.

Dan kini kutahu apa arti kata Khilafah, sebagai implementasi dari pelaksanaan Islam kaffah.

Tetapi ustadzah ku tercinta kini telah tiada, saat harus menyerahkan ajal pada takdir atas leukemia yang telah lama dideritanya.

Tapi semangat dakwah yang telah ditularkan telah bersemayam menancap kuat dalam dada,
“Hidup mulia atau mati syahid, Allohuakbar…..”

LellyHapsari/RumahMedia

Selesai