Cerita Carla

“Ya Allah, kenapa semua cobaan datang terus padaku?” gumam Carla lirih sambil memegang benda pipih dengan layar sentuh. Malam ini Carla duduk termenung di sudut sebuah taman Ibukota yang baru saja selesai direnovasi. Langit tampak cerah tanpa bintang sedikit pun. Bulan sabit tampak terang benderang menampakkan dirinya.

Namun, cerahnya langit berbanding terbalik dengan suasana hati Carla. Mata gadis 21 tahun itu tampak lesu. Dengan tatapan kosong, ia melihat ke arah air mancur menyala yang dipadati oleh muda-mudi. Hampir saja bulir air terjatuh dari sudut mata hazel yang dinaungi bulu mata lentik.

Tak henti-hentinya gadis bertubuh jangkung itu mengutuki diri. Keadaan keluarganya sudah di ambang kehancuran. Pertengkaran  selama dua tahun antara mama dan papa, sudah memasuki babak akhir. Kata cerai terucap dari papa. Donny, adik Carla semata wayang, terjerumus dalam lingkaran narkoba. Orang tua mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing, tak mau tahu dengan keadaan anak-anaknya.

Acap kali, Carla mencoba mendamaikan mama dan papa, tapi selalu saja berakhir dengan percekcokan. Disertai suara bantingan pintu kamar serta raung knalpot mobil papa yang melesat keluar dari rumah. Gadis berambut ikal itu jadi sering terserang insomnia, memikirkan orang tua serta sang adik. Dan tak jarang, muncul pula kenangan mengenai dua orang terdekat selain keluarganya.

Masih terbayang di benak Carla, suasana keluarga mereka dahulu kala. Saat ia kecil sampai duduk di bangku Sekolah Menengah, keluarga mereka sering bepergian bersama-sama, selalu berempat. Suasana harmonis keluarga mereka mulai pudar saat mama sibuk dengan kelompok arisan. Mama lebih senang jalan-jalan dan berkumpul bersama teman-teman sosialita. Papa pun mulai kesal karena mama sering pulang larut malam, hingga tennggelamkan dalam pekerjaan di kantor. Donny pun tumbuh menjadi anak manja, sulit diatur, serta terbawa pergaulan yang salah. Suasana bahagia di rumah, hanya tinggal kenangan.

Sebuah panggilan telepon masuk ke gawai Carla. Dengan masygul, ia menatap nomer telepon itu. Bagaimana bisa Malvin menghubungi, bukankah nomernya sudah aku blokir, pikir Carla. Gadis 21 tahun itu menekan tombol merah di layar gawai sambil memasukkan ke dalam tas. Teringat kembali kisah kasih bersama Malvin.

Benak Carla kembali pada masa-masa akhir SMA bersama Malvin. Teman satu organisasi yang selama ini selalu mengajak debat dan sering berseberangan pendapat, bahkan diam-diam Carla benci karena selalu diejek dan disalahkan. Tak disangka, pada tahun akhir masa SMA, sikap Malvin tiba-tiba berubah menjadi sangat baik.

Ternyata semua perbuatan Malvin sejak awal SMA, hanga ingin menarik perhatian Carla. Gadis itu merasakan kegembiraan baru saat ada lawan jenis yang memperhatikannya. Diam-diam, Carla menjalin hubungan cinta dengan Malvin, tanpa sepengetahuan orang tua.

Carla dan Malvin pun sering jalan berdua layaknya orang pacaran, walau sembunyi-sembunyi. Jalan yang paling aman, mereka berdua janjian bertemu di rumah Sherly, sahabat Carla.  Beberapa kali, ia mengajak Sherly jalan-jalan juga dengan Malvin. Gadis itu berpikir kalau tiba-tiba orang tuanya memergoki dia jalan berdua dengan Malvin tentu bahaya. Lebih baik Sherly diajak juga. Sebagai sahabat yang paling dekat, tak jarang Carla pun bercerita dan curhat pada Sherly saat ada masalah dengan Malvin.

Setelah mereka semua lulus SMA, Malvin serta Sherly diterima kuliah pada salah satu perguruan tinggi terkenal di Bandung. Sementara Carla harus melanjutkan kuliah di luar negeri sesuai perintah sang papa. Dengan berat hati, Carla mematuhi. Carla pikir pun tak apa ia kuliah di luar negeri, toh hanya di Singapura, yang dekat dengan Indonesia.

Ini artinya Carla harus berjauhan dari Malvin serta Sherly. Carla berusaha percaya dengan janji Malvin bahwa mereka akan baik-baik saja menjalani LDR (Long Distance Relationship). Apalagi komunikasi di tahun 2014 sudah ada aplikasi Skype, sehingga saat Carla ataupun Malvin sedang rindu, mereka tinggal membuat janji untuk panggilan video melalui laptop masing-masing. Saling sapa di medsos maupun aplikasi pesan di gawai pun berjalan mulus selama ini. Hubungan persahabatan Carla dengan Sherly juga masih terjalin akrab.

Sampai suatu hari Carla memutuskan pulang ke Jakarta tanpa memberitahu siapa-siapa. Setelah penerbangan siang hari dari Singapura, ia langsung menuju Bandung dengan travel dari bandara. Hendak memberi kejutan pada Malvin yang berulang tahun esok hari, lalu akan kembali ke Singapura dua hari lagi. Carla yang berasal dari keluarga menengah ke atas tentu tidak sulit membeli tiket pesawat dan memesan hotel. Namun ia bertekad akan menginap di tempat kost Sherly.

Sesampainya di Bandung, Carla langsung menuju tempat kost Malvin di tengah kota Bandung. Rumah kost Malvin berbentuk gedung bertingkat tiga, dan bercampur antara laki-laki dan perempuan. Walaupun lahir dari keluarga kaya yang membebaskan pergaulan, Carla tahu ia tidak bisa menginap di kost Malvin. Gadis yang malam itu memakai sweater biru muda, tahu batas dalam berpacaran. Untuk malam ini, Carla memutuskan hanya mampir sejenak ke kost Malvin sebelum menginap ke tempat Sherly.

Dengan hati riang, ia langsung mengetuk pintu kamar kost Malvin, tanpa memanggil nama Malvin. Tangan Carla memegang sebuah kue beserta lilin. Dalam benak, terbayang betapa terkejut dan bahagia wajah Malvin melihat sang kekasih datang di malam hari lahirnya sambil membawa kue kesukaan. Terdengar langkah terseok-seok dari dalam kamar, lalu terbukalah pintu di hadapan Carla. Seorang wanita yang sangat ia kenal, dengan rambut setengah basah serta memakai handuk menutupi tubuh sampai paha saja, terpana melihat Carla. “Siapa yank? Malam-malam gini?” tanya Malvin dengan suara mengantuk, menuju ke arah pintu.

Mereka bertiga hanya terdiam sejenak saling melongo. Tanpa sadar Carla menjatuhkan kue di tangan. “Sherly, lo … Sama Malvin? Ngapain, hah!” pekik Carla sambil terisak. Ia mendekap mulut, menahan teriakan dan makian yang hendak dilontarkan.

Setengah berlari, Carla berbalik pergi meninggalkan tempat kost sang kekasih. “Beginikah rasanya dikhianati,” lirihnya dengan air mata mengalir deras. Hujan yang tiba-tiba turun menyamarkan aliran tangis di pipi gadis keturunan ningrat itu. Tak peduli ia, dengan suara samar-samar kekasih yang memanggilnya.

Bersambung