Cenat-Cenut Corona

Penulis: Lelly Hapsari

Padahal seakan-akan baru saja rutinitas pagi kujalani sebagai ibu rumah tangga yang biasanya dengan aktifitas padat mengantar anak sekolah pagi harinya, kemudian sore harinya mengantar juga ke TPQ tempat mereka mengaji. namun tiba-tiba saja aktivitas itu kosong. Hamparan jalanan menjadi lengang tanpa berisik klakson, semua itu terjadi karena saat pemberlakuan penghentian aktivitas sementara oleh pemerintah dalam masa lockdown. Sisi positif yang bisa diambil adalah: berkurangnya tingkat pencemaran lingkungan terutama polusi udara, berkurangnya angka kecelakaan dan tindak kriminal di jalanan, bisa lebih mendekatkan diri dalam keluarga terutama pada keluarga yang saling sibuk dan terutama lagi masing-masing individu bisa lebih berintropeksi diri atas wabah yang ada saat ini.

Berbanding lurus dengan efek positif, maka efek negatifnya pun ada juga. Penghasilan rata-rata menurun bagi pekerja non formal yang mengandalkan upah harian dan bekerja di lapangan, para pedagang kaki lima seperti abang tukang jualan mainan, cilok atau pun jajanan anak yang mengandalkan pintu gerbang sekolah-sekolah masih dibuka lebar dan berbagai profesi lainnya. Saya sebagai ibu rumah tangga biasa yang hanya mengandalkan gaji dari suami pun tak kalah repotnya. Gaji yang disunat mendadak menjadi separuh dengan alasan masa kerja tidak sampai sebulan hanya bisa menadahkan tangan meminta kasih pada Sang maha kaya.

Bukan saatnya untuk mengeluh! harusnya demikian, jika negara menjamin kesejahterahan rakyatnya tanpa dibebani hal-hal yang berbau pajak, seperti membebaskan iuran BPJS, pajak kendaraan bermotor, menjamin harga sembako dan barang-barang lainnya tetap stabil bila perlu murah atau bahkan memberikan bantuan sukarela seperti negara-negara tetangga lainnya. Seharusnya pemerintah bertindak sebagai pengurus sekaligus penanggungjawab untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat, sehingga tidak membiarkan rakyatnya pontang panting secara individual menyelesaikan masalah masing-masing sesuai versi kemampuannya. Si kaya dengan panik memborong sembako untuk persediaan lockdown sehingga barang langka dan mejadi celah pemanfaatan monopoli harga satu golongan.

Mendadak sarung tangan, masker hingga berbagai bahan disinfektan laku keras di pasaran dan itu pun bukan diborong pemerintah untuk rakyatnya. Menyedihkan saat seorang buruh harian lepas terpaksa harus balik kampung karena tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya karena harus kehilangan pekerjaannya. Otomatis mereka berbondong-bondong balik kampung untuk melanjutkan kehidupannya di kampung asal. Padahal hal itu sangat rentan dalam penyebaran virus Corona. Mungkin hal ini dianggap remeh padahal ini adalah awal bumerang, virus ini begitu cerdik dan luar biasa cepat penyebarannya. dari hal yang remeh inilah maka bumi yang bulat ini seolah-olah sudah terbungkus Virus Corona.

Rakyat butuh pemimpin yang cepat tanggap serta dermawan, saat rakyat sehat negara menarik berbagai macam jenis pajak. Namun saat rakyat sakit dan lapar janganlah pemerintah hanya memilah-milah untuk siapa yang akan ditolongnya, semuanya memiliki nyawa dan semuanya memiliki hak hidup juga harapan yang sama. Andaikata semuanya bersatu menyeru pada solusi Islam kaffah sebagai solusi tunggal mungkin Allah Azza Wajallah akan berikan kembali naungan kasih kepada kita. Tetap bersabar, ikhtiar dan tawakal dalam menghadapi ini semua. Tetap ikuti aturan Stay At Home!

***********