Celoteh Bocah

Lelaki kecilku masih saja asyik bermain lego dan mobil-mobilan. Entah sudah berapa kali ia bolak-balik membuat sebuah model dari gabungan balok-balok plastik berwarna-warni itu. Setiap kali berhasil membuat karya ia akan menunjukkan hasilnya padaku sambil berkata, “Look Mama, I made pancake machine.” “That’s great! What is the function?” tanyaku selanjutnya. “It can make lots of pancakes.” jawabnya dengan bangga. Selanjutnya ia akan berperan seolah ia membuat pancake untukku dan menanyakan bagaimana rasanya. Jika aku suka, ia akan senang dan beralih membuat mesin lego lainnya. Aku biasanya memberi apresiasi dan bertanya tentang sesuatu terkait karyanya. Untuk membuat ia lebih berani berpendapat juga mengetahui sejauh mana ia paham akan sesuatu.

Bahagia rasanya mendengar ia berbicara banyak dan menjelaskan sesuatu dengan bahasanya. Kosa kata yang dia pahami juga semakin banyak. Beberapa hari ini bahkan ia mulai banyak bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan. Seperti siang ini saat aku sedang menyetrika bahan-bahan untuk proyek menjahit. “What are you doing, Mama?” tanya Ismail. “I am ironing.” jawabku. “What is ironing?” tanyanya lagi. Aku terdiam memikirkan kata-kata apa yang sebaiknya aku ucapkan untuk menjelaskan apa artinya menyetrika dengan bahasa yang mudah agar dapat ia pahami. “Ironing is heating a fabric or clothes to make it tidy and flat or smooth.” jawabku. “Ooh … I think I got it what it mean.” katanya sambil manggut-manggut. Entahlah apakah ia benar paham atau tidak dengan penjelasan yang aku berikan. Dia pun melanjutkan kegiatannya.

Dahulu aku sempat khawatir karena anakku itu mengalami speech delay-terlambat bicara. Di saat anak seusianya sudah banyak mengucapkan kosakata, ia hanya menunjuk benda dan menarik-narik tanganku. Di usia hampir dua tahun hanya beberapa kata yang bisa ia ucapkan. Butuh kesabaran yang tinggi untuk bisa memahami sikap diam dan tangisan pengganti kata yang seharusnya ia ucapkan. Namun semua keterlambatan tersebut bukanlah salahnya. Ia mengalami bingung bahasa karena terpapar beberapa bahasa sepanjang usianya. Sejak lahir ia telah tinggal di lingkungan multilingual. Mendengar aneka bahasa dari orang yang berbeda-beda negara. Hingga akhirnya saat kami mulai menetap di USA dan berbahasa Inggris secara konsisten, maka ia pun mulai dapat berbicara dengan baik. Ketika sebelumnya aku sempat menggunakan bahasa Indonesia saat bicara dengannya, dan kusadari bahwa ia paham namun enggan bicara atau bingung bahasa apa yang harus ia ucapkan. Maka aku pun memutuskan untuk mengalah, melepaskan bahasa Indonesia dari percakapan harian dan aku fokus bicara bahasa Inggris sebagaimana ayahnya dan lingkungan menggunakan bahasa Inggris.

Kini saat dia sudah pandai bicara, aku coba untuk memulai kembali percakapan dalam bahasa Indonesia. Awalnya dia hanya diam dan mendengarkan tapi tidak bereaksi atas ucapanku. Mungkin ia tidak paham. Semakin sering aku bicara bahasa Indonesia dengannya, ia menyikapi dengan berbagai cara. Kadang ia menolak untuk mendengar dan menutup mulutku sambil bilang stop, kadang ia bersedia mengikuti perkataanku sambil tertawa dan kata yang dia tirukan terdengar berbeda. Aku tidak terlalu ambil pusing bagaimana reaksi dia karena aku tahu suatu saat nanti dia akan mampu bercakap denganku menggunakan bahasa Indonesia, dan tentu saja bisa bercakap dengan keluarga di Indonesia. Butuh waktu dan konsistensi untuk bisa membuat ia bicara dwi bahasa. Aku yakin ia mampu.